Met Ultah Bunda…..

Mei 8, 2008

Hari ini 8 Mei 2008, Bundaku genap memasuki usia 52 tahun. Lumayan sepuh sih, Alhamdulillah juga sehat Wal afiat dan isih tetep semangat nyambut gawe lho… bukan jadi masalah ya buk…sebelum memasuki masa retirement memang harus giat-giatnya bekerja. Tanpa berusaha terliat istimewa terhadap yang lain, aku sangat bangga dan respect sama mami. Untuk ukuran aku, beliau sudah kuanggap teramat sukses, karir lancar ya Mi…, kemaren tes sertifikasi Alhamdulillah juga lolos, jadi kan gajinya ato tunjangannya bisa naik tuh…!!! Trus sekarang nih lagi nyusun Tesis, moga aja ntar bulan Oktober bisa lulus, jadi Master dunk……

Buk, moga aja di Ultah yang ke-52 ini panjang usia slalu, sehat wal afiat, sukses dalam segala hal, dan memberkahi keluarga yang lain juga ya buk….!!! Ya meski hari ini aku ga bisa dateng ke “Borong Palace” rumahku tersayang di Purwodadi, tapi ntar kalo pas wisuda Mommy, aku pasti datang deh….!!!! Di surabaya kan??? Lagian No2d (de2k tersayang) mana asyik sih..jadi anak semata wayang….Yo ga Nod????

Balik lagi ke soal hal yang buat ku salut dari ibuku, dan aku pake juga dalam pergaulanku, pekerjaan, rumah tanggaku juga. Ibu orangnya berani, teges ma orang lain, terhadap orang lain yang ga diakarabin cenderung cuek (memberikan batasan ruang gerak maksudnya… mami kan agak feodal!!! gpp mi biar ga pasaran), Ulet di kerjaan (Ampe Insomnia lho kalo ga bisa nyelesain Laporan Bos…!!!Dulu sih ada mantu kesayangannya, tapi saiki mantune pindah ke jakarta Mi…. sibuknya 70X lipat ketimbang laporan BOS, ya di liat aja Mi moga aja mantunya tambah sukses tur akeh duit’e yo…..), Mami meski orangnya ga pinter-pinter amat tapi mang ga terliat bodoh, karena dia tuh ga sungkan lho nanya ma anaknya (me n my sist) soal apa ajah, gayanya sih ga langsung nanya, tapi seneng banget kalo aku n No2d tuh cerita panjang lebar tentang trend fashion, pernik2 interior yg lagi up date, di sela-sela obrolan itu juga berbagi pengetahuan kekinian dikit lah ma Ibu, biar Ibu juga ga tenggelam ama zaman. Ibuku sebagai pasangan hidup dari Bapakku (he’s my inspirations) juga cukup luwes kok, dulu waktu Bapak Dinas di LIPI KRP juga bisa jaga sikap, Di DPRD II Kab. Pasuruan juga lumayan bisa membawa diri dalam pergaulan Nyonya2 Dewan, Ya..syukur Alhamdulillah intinya….

Ibu juga ada lho kebiasaan yang ngga banget, tapi tau tuh 2 anaknya pada ketularan semua. Kayak sifat judesnya, trus kalo lagi ngumpul bertiga bawaannya ngomentarin orang yang sok asik ato apalah di lingkungan kami disana, ibu itu ga pernah tau berapa jumlah persis gaji suaminya dan berapa duit yang lagi dipunyai suaminya (bukan ga mau tau ama Bapak,tapi ya memang ga pengen ikut campur, terserah ngasih berapa, toh juga dia punya penghasilan sendiri..), trus kebiasaan Mami tuh kalo mo keluar bingung milih baju, lama banget bikin pertimbangan (tapi untung aku n No2d ga niru itu), tapi intinya kami bertiga tuh…banci kompakan….banci tampil…hobby banget sama hal yang uniform, walhasil klo lebaran tuh maunya kembaran mulu bajunya…..

So, intinya aku bangga punya Bunda yang satu ini…..!!!! Bunda …you’re key to my life…….

Aku sempat baca di dalam salah satu figure yang memuat statistik pencapaian IPG (Indeks Pembangunan Gender) tahun 2005 menunjukkan prosentase 65.1 dan di intrepetasi kan kemajuan kualitas hidup perempuan yang meningkat dari tahun sebelumnya,data tersebut versi Kemeneg.PP dengan BPS. Dapat diartikan kualitas Perempuan Posmo Modern bisa dikatakan layak.

Hal diatas wajar terjadi, karena wilayah realitas perempuan pada satu sisi Modernisme yang menawarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, cara berpikir serta pola hidup. Dari keberhasilan itulah erat keterkaitannya dengan gerakan feminisme. Momen 21 April sangat tepat rasanya kalo hal yang paling layak di sorot adalah emansipasi atau gerakan feminisme. Tapi kali ini aku lebih tertarik pada kenyataan empiris yang terjadi di masyarakat, dengan mengamati streotype yang terjadi pada gerakan feminisme tersebut, disitu pasti ada suatu pesan implisit yang bisa kita tangkap.

Sebenarnya kita sebagai perempuan, harus mengambil sikap seperti apa dan pada posisi feminisme yang seperti apa. Dua hal paradoks terjadi pada perempuan, ada sebagian perempuan yang diposisikan subordinat oleh kaum lelaki sehingga mengalami kekerasan fisik (physical violence), kekerasan emotional (emotional violence) maupun kekerasan seksual(sexual violence). Disisi lain ada juga wanita yang menangkap emansipasi sebatas simbolik saja, seperti pakaian wanita yang minim, wanita yang beraktivitas kelewat jam malam, berjudi,merokok,mabuk dan banyak hal negatif lainnya.

Dari streotype yang paradoks diatas, esensi yang terdapat pada emansipasi atau gerakan feminisme sendiri menjadi kabur. Tentu saja sangat positif ketika kita menemukan para kaum hawa yang menjabat sebagai pemimpin lembaga pemerintahan, menjadi ahli nuklir, atau cendekiawan. Tetapi ketika kaedah moral, agama, dan sosial-budaya yang telah menjadi standar kehidupan masyarakat diabaikan, maka yang terjadi adalah porak porandanya kehidupan modern karena manusia telah kehilangan pegangan hidup.

Maka emansipasi yang over seperti ini yang malah akan membawa arus balik berupa pelecehan terhadap perempuan. Memaknai gerakan emansipasi secara proporsional dan kontekstual adalah solusinya, di era yang global ini. Masa depan globalisasi yang menuntut peranan wanita di sektor publik akan tercapai dengan baik ketika perempuan sendiri tetap berpegang pada kearifan lokal (local wisdom).

Kita nanti bisa mengukur prestasi dari gerakan feminisme yang sedang marak ini, dengan beberapa standar nilai. Pertama, apakah gerakan feminisme akan berhasil membuat konstruksi sosial-masyarakat menjadi tenang dan bersinergi. Kedua, setelah gerakan feminisme hadir dengan totalitasnya, apakah angka kejahatan akan berkurang atau bertambah. Ketiga, lebih dominan manakah antara prestasi yang dicapai gerakan feminisme dengan efek negatif yang ditimbulkannya.

Dengan ukuran nilai diatas, maka keputusan dan sikap yang kita ambil dalam memposisikan diri kita pada Model Feminisme yang seperti apa, dapat terarahkan. Kembali kepada apa yang diprediksi oleh John Naisbitt dan Patriia Aburdence, bahwa perempuan sebagai future leader akan dapat diujikan, minimal di negeri Indonesia. Disini pula letak proyeksi globalisasi dengan gerakan feminisme yang dipropagandakan selama ini.

Buat diriku pribadi, aku akan berusaha untuk menjadi perempuan yang tetap pada hakekatnya. Mengakui adanya keberadaan Emansipasi dan segala bentuk gerakan feminisme, karena bagaimanapun juga untuk hal itu, melewati proses yang tidak mudah. Tapi point nya lebih pada bagaimana sikap yang aku pilih pada bentuk Feminisme tersebut, dan aku lebih cenderung pada feminisme yang proporsional, karena aku masih mau dan sangat mau untuk mendengarkan masukan, kritik, rekomendasi,atau bahkan nasehat sekalipun, dengan catatan apa yang dikatakan itu memang masuk akal dan hati serta pikiranku tidak complain. Dengan begitu aku semakin diuntungkan, banyak hal baru yang aku tahu, wawasan bertambah, watak semakin matang, karena pertimbangan semakin beragam. Disitu Equality kualitas berpikir kita kaum perempuan dikomparasikan kaum pria semakin terbukti.

Kuncinya sederhana, menjadi perempuan yang sebenarnya, atau yang lebih dihargai (respect) oleh pria, baik itu dalam sekup pekerjaan, pergaulan, organisasi, bahkan yang lebih personal seperti pola hubungan pribadi, suami-istri atau yang belum berumah tangga sekalipun. Kita, perempuan dalam hal ini ada baiknya untuk pandai dan mengerti betul bagaimana menempatkan posisi kita (istilah jawanya: pinter ndeleh awak), karena kalo kita masih punya rasa gengsi (takut dibilang bodoh), ya pastinya penilaian mereka memang kita dianggap tidak begitu tau banyak hal atau “Kurang Wawasan”, buktinya masih jaga gengsi??? karena semakin kita so gengsi, so tau banyak hal, justru malah ga mendapat informasi baru lho dari orang lain, ya ketinggalan info lah kita…… !!! Maka, baiknya kita mau mendengarkan orang lain, mau di kritik orang, mau di ingatkan sama pasangan sendiri, tidak sungkan untuk minta maaf bila salah, berani mengungkapkan apa yang kita inginkan dan tegas (jangan hanya berani ngomongin di belakang), dan yang tidak kalah pentingnya salah satu anjuran untuk menjadi hal yang membuat laki-laki respek sama kita adalah “Mengerti apa yang disuka dan tidak disuka sama laki-laki dari personality kita” , So dengan Feminisme Proporsional ini ga ada salahnya kita jauh lebih mengerti tentang sisi kejiwaan dari sosok seorang laki-laki. Sederhana keliatannya tetapi bagi sebagian wanita yang tidak menguasai ilmu tersebut, terkadang kebosanan dan kejenuhan melanda pada pasangan atau teman laki-laki dari perempuan tersebut. Karena besar kemungkinan perempuan tersebut, hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, apa yang seharusnya dipenuhi pasangannya terhadap dia, mencari-cari kesalahan dari pasangannya, tanpa tau apa yang menyebabkan itu semua terjadi, bisa jadi dari kita sendiri (perempuan) atau pasangannya (laki-laki). Makanya diomongin langsung kan jauh lebih nyaman, tau pokok masalahnya.

Aku menyoroti hal itu dengan tajam, bukan berarti hal tersebut sekedar wacana lho!! Realitasnya sering terjadi di masyarakat karena ketimpangan dari pola pikir kita (perempuan) dibanding kaum pria. Kesimpulanku, untuk menunjukkan keeksisan kita tanpa harus merendahkan laki-laki, banyaklah belajar, membaca dan mendengar (itu penting), kan malu kita sebagai perempuan kalau dibilang kurang wawasan, taunya cuma itu-itu aja….!!! jangan dulu merasa bangga kalo kita mahir pada bidang yang kita tekuni saja (No Wonder lah…), sementara wawasan yang lain nya minim. Jangan deh…..!!! Ayo bangkit perempuan, tunjukkan kalo kita memang layak untuk di dengarkan (dengan catatan omongan kita harus berbobot). Dengan seperti itu bukti nyata dari Proporsional Feminisme akan terlihat . Let’s Try…..!!!

Sabtu pagi…. smua orang pada punya agenda buat wiken-wikenan , tapi diriku malah sibuk lho…(kesannya kayak orang penting ajah). Kesibukanku sih tidak terlalu rumit, cuma mang agak susah aja buat segera nyelesain order dadakan, habis data yang dicari (sumber data) it’s not avaliable sih….
Ceritanya…, berawal di jum’at sore. Kira-kira pukul 4 sore, aku dan temen-temen dah siru-siru (siap-siap) mo pada pulang ato datang ke tujuan masing-masing, eits….tiba-tiba… masuklah P. Hermen (Ka.biro,red) beserta staf, nyuruh kita untuk menyiapkan data seputar 8 target yang ada pada MDGs (Millenium Development Goals), dilihat sisi prosentase pencapainnya di 199 DT(Daerah Tertinggal) yang ada di Indonesia.
P.Hermen mengintruksi kita (tim data) untuk segera menyediakan data yang diminta tersebut. Kenapa keliatan tergesa-gesa dan sangat mendadak, karena itu perintah langsung dari Pak Mentri, yang sedianya hadir dalam agenda acaranya dalam orasi ilmiah tentang “Desa Model” yang memakai standarisasi MDGs. Beliau mengantisipasi validitas dari yang disampaikannya dengan adanya data yang harus kita sediakan tersebut.
Nah Lho…..Susyee kan….!!! Jum’at sore kita (yang di koordinir ma Mas Arief) mengamini apa yang diperintahkan P.Hermen dengan finding data mati-matian, tapi ujung-ujungnya yang kita dapat ya cuma bentuk laporan pencapaian target MDGs dalam skala nasional saja, file itupun juga sudah lama di arsip reference (folder dataku,red). Intinya kita semua pada mentok lah, lagian juga males dan alot banget buat mikir, makhlum dah habis maghrib sih, cape lah…
Akhirnya M. Daniel pulang duluan, ga lama kemudian Frida n Adiet juga pulang (kasian lah dah pada kuyu n lelah), terus aku setelah mereka yang lain pulang dan juga memastikan sudah buntu banget, ya aku pulang juga lah…..!!! Setelah sholat maghrib, M. Arief (koordinator,red) ke lantai II menghadap P.Hermen untuk report, tapi P.Hermennya masih kekeh untuk kita menyelesaikan tugas susye tadi. Walhasil, M. Arief mutusin bahwa kita Sabtu pagi lembur buat nyelesain “request dari P.Mentriku terhormat”. So, kita saling kabar mengabari bahwa sabtu lembur.
Sabtu pagi harinya, aku masih ogah-ogahan pergi ke kantor, bayangin masih musti jalan ke halte busway dulu, ntar kalo akunya dah nyampe halte monas musti nyusurin lagi jalan merdeka barat, pas di depan Mahkamah Konstitusi aku belok deh, kan kantorku belakangan ma MK persis, bahkan ga dipisahin pagar lagi….!!! Meski badan masih linu kabeh aku beranjak mandi,siap-siap dan cabut ke kantor.
Nyampe di kantor langsung bagi tugas buat nyelesain tugas, tapi sempat sejenak koneksi internet mati (gangguan di server), tapi ga lama dah connect lagi. Trus dah sekian lama kita cari apa yang kita mau, tapi kok ga dapet-dapet sih…! Bahkan sekitar jam 12.00 siang P. Hermen sempat nengok ke ruang kita, mastikan kita dah dapat data pa belon, ya kujawab “belum,pak! susah pak, nyari datanya….! ” karena data yang kita mau ini ada 2 kemungkinan : 1. Daerah (DT) belum membuat Laporan MDGs. dan 2. Daerah(DT) sudah membuat laporan tersebut tapi tidak di publish aja di Cyber Media. Kemungkinan-kemungkinan itu buat kita makin alot nemuin data yang diminta. Akhirnya M.Arief berinisiatif konsultasi lagi ma P.Hermen gimana baiknya. Dan solusinya kita disuruh cari 2 atau berapa aja Laporan MDGs DT, dan kita temukan 5 DT yang nantinya di komparasikan dengan Perhitungan Prosentase penacapaian MDGs dalam skala nasional.
Berkaitan dengan Orasi Ilmiah Pak Mentri tentang “Desa Model”, kita di order untuk compare antara Target Desa Model Vs Target Desa Millenium, disitu kita bisa merampungkan tugas itu, ya meskipun bisa dibilang jauh dari idealnya laporan data. Tapi sudah ada yang kita lakukan lah, komplit sih komplit tapi cuma belum mencakup keseluruhan dari DT yang ada di Indonesia, karena itu tidak mungkin kita menyelesaikannya dalam batasan waktu cuma 1 hari. Untuk hari sabtu yang lembur ini kita hanya mampu memberikan 5 Laporan MDGs DT sebagai sample untuk bisa dijadikan acuan dalam memberikan asumsi oleh Bapak2 Kepala atau Pak Staf Ahli mungkin, yang ada di lantai II. Oke pak!!! Kita-kita mo pulang dulu nih, dah lunas kan….langitnya dah mendung tuh…Jadi sepakat ni pak, kita pulang dulu. “Pareng Rumiyin, Bade Wangsul ” “Assalamualaikum”….
So gitu ajah agendaku di hari sabtu pagi jam 10.00 until jam 16.00, lalu aku langsung ke kantor my hubby , dapat inspirasi tentang agenda wiken siang ku n aku nge-blog deh…

Dari semenjak lahir sampai sekarang, betapa payahnya kita kalau sampai tidak mengenali diri sendiri. Karena sebelum melangkah pada fase yang banyak orang menyebutnya dengan istilah personal development, terlebih awal dan amatlah penting untuk mengenali diri sendiri.Mengenali diri sendiri adalah dasar dari upaya untuk mencapai target diri dalam kehidupan.

Dalam strategi perang Sun Tzu disebutkan:

1. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, maka 100 kali berperang dan 100 kali menang.

2. Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri tetapi tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan , maka 100 kali berperang, 50 kali menang dan juga 50 kali kalah.

3. Tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri maupun lawan, maka 100 kali berperang dan dipastikan 100 kali kalah.

So….. betapa pentingnya kenal Siapa dirimu???

Masih menurut Sun Tzu juga menyebutkan pola strategic thinking dapat diaplikasikan ke dalam 4 tahap: mengenali diri sendiri, memposisikan diri, mendobrak diri, dan aktualisasi diri. Ada baiknya kesemuanya dijalankan secara continity, biar dalam diri kita kedapatan efek pemanfaatan potensi diri yang optimal.

Dalam diri tiap manusia selalu terdapat sesuatu yang disebut dengan potensi, yang terdiri dari kekuatan fisik dengan otak sebagai pengendalinya, dan kekuatan metafisika yang dikendalikan oleh hati nurani. Bila pusat pengendali tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, bisa dibilang sih….itu merupakan bentuk pengingkaran atas kesempurnaan manusia.

Perlu diketahui lho… potensi yang ada dalam diri yang merupakan anugerah dari Tuhan bisa membantu kita agar terlepas dari kesulitan hidup. Sebab kesulitan hidup bukanlah nasib atau takdir , namun lebih pada bentuk ketidaktahuan dan kemalasan manusia dalam memanfaatkan dengan optimal dari semua potensi diri yang ada.

Untuk mengembangkan diri sangatlah ditentukan dari cara berpikir kita (pikiran sadar, pikiran bawah sadar, visualisasi dan afirmasi). Apabila ingin mengubah kebiasaan dalam bentuk tindakan dan sikap dalam kehidupan sehari-hari dianjurkan untuk diawali pada proses “Merubah Cara Berpikir”. Karena perubahan adalah kekuatan paling dasyat di dalam masyarakat , bahkan ada sebagian orang yang takut dengan perubahan. Hanya mereka yang membuka pikirannya terhadap konsep-konsep baru yang akan selalu bergerak ke tingkat prestasi dan kesempurnaan yang tinggi.

Tidak ada kata terlambat untuk menjadi sukses, karena perlu adanya keyakinan optimal agar mampu melakukan hal besar, dan agar bisa menetapkan tujuan hidup dengan spesifik dan terukur, yang terdapat lompatan-lompatan didalamnya menuju pada hasil yang besar. Selain itu, tanpa sesuatu yang menjadi fokus maka keputusan dan tindakan yang diambil dalam keseharian tidak akan memiliki arah jangka panjang dan tidak akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan, sebab tanpa sebuah arah akan terjebak pada kondisi stress dan monoton.

Dari apa yang diulas diatas, sebaiknya sih……..

Bekerja keraslah untuk memperbaiki pikiran, tubuh dan semangat diri. Memulai hidup dengan energi dan semangat tanpa batas. Tidak menunda untuk segera bertindak untuk mendapatkan kesempatan baik pertama yang datang di hari ini, karena semua yang besar dibangun dari hal kecil yang menjadi komponen pembentuknya. Dan……

Buang jauh-jauh pikiran untuk memulai sesuatu yang telah lama dipikirkan, karena akan menjadi pemborosan waktu. Waktu yang tepat itu tidak akan datang!!!

Pada akhirnya….. semoga aku sudah kenal Siapa diriku……

Mencapai kesuksesan sebuah korporasi bahkan negara, tidaklah semudah yang di bayangkan. Membutuhkan proses yang panjang untuk bisa sampai pada fase tersebut. Diantara beberapa faktor penentu kesuksesannya itu salah satu diantaranya sangat ditentukan dari kualitas leader atau pemimpinnya.

Dewasa ini, hal tersebut sangat complicated, hanya untuk sekedar bertanya “Bagaimana seorang Pemimpin Ditemukan?”. Apa yang menyebabkan sulitnya menemukan seorang pemimpin? Apakah setiap orang bisa menjadi pemimpin? Siapa yang paling sesuai untuk menjadi pemimpin, tua atau muda?

Sebenarnya setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin, meski kemampuan dari masing-masing orang berbeda. Setiap orang juga memiliki chance yang besar untuk menjadi pemimpin. Semuanya kembali lagi pada calon pemimpin tersebut dalam mengeksplorasi potensi dari dirinya secara optimal. Untuk mendapatkan nilai-nilai kepemimpinan dalam diri seseorang diperlukan adanya kombinasi antara bakat dan kompetensi yang bisa dikembangkan dengan balance.

Pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri baru bisa memimpin orang lain. Kepemimpinan itu bisa dibentuk sesuai dengan kompetensinya. Memang ada sebagian orang yang born to lead , tetapi buat mereka yang bukan termasuk born to lead, kepemimpinannya juga masih bisa diasa, di kembangkan, dan ditingkatkan lagi sehingga memunculkan sikap ketegasan dalam diri. Karena hal itu merupakan cerminan karakter pemimpin yang sekaligus menjadi panutan bagi bawahan atau anggota timnya.

Disamping itu kepercayaan terhadap orang lain juga sangat dibutuhkan bagi pemimpin, karena apabila seorang pemimpin tidak mampu mempercayai bawahannya, maka akan menyulitkan buat si pemimpin dalam hal mendelegasikan tugasnya. “Jangan harap bawahan bisa percaya pada pimpinan, jika pimpinan tidak mempercayainya”.

Yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan bagi seorang pemimpin adalah dianjurkan untuk lebih instingtif , karena di kehidupan nyata terkadang ada orang yang pandai memanipulasi keadaan, mampu menunjukkan sifat-sifat positif, bahkan melampaui kapasitas dirinya padahal pada kenyataannnya tidak seperti itu. Jadi seorang pemimpin harus bisa melihat itu, semakin lama dia memimpin maka insting nya semakin terasah, dan mencapai tingkat kematangan (emtional quation). Tingkat kematangan datangnya lain pada tiap-tiap orang, tergantung pada usia, pengalaman, dan kesempatan.

Seorang pemimpin tidak hanya dilahirkan begitu saja, namun harus dibangun dan mempunyai standarisasi, dan menjadi pemimpin yang berkarakter, karakter yang dimaksud adalah harus memiliki kepintaran yang didapat dari pendidikan serta pengalaman yang ditunjang dengan keahlian, namun jangan terjebak pada kriteria-kriteria pemimpin yang berkarakter, aspek penempatan juga perlu diperhatikan, sebab meski pemimpinnya berkarakter tetapi penempatan tidak sesuai maka akan percuma saja. The rightman On the right place.

Tepatnya hari sabtu kemaren, 5 april 2008. Bertempat di Hotel Kartika Candra Jl.Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Aku sangat beruntung sekali bisa dapat kesempatan untuk ikutan datang di acara Launching web personal Pak Akbar Tanjung www.bangakbar.com, yang salah satu diantara panitia penyelenggara adalah my hubby. Dia dan timnya terjun langsung dalam proses create situs tersebut.
Di acara launching yang di gelar meriah itu hadir juga P.Habibie, Gusdur, Hayono Isman, Emil Salim, Martha Tilaar, Sudikatmono, dan masih banyak lagi pejabat-pejabat lain. Di acara itu aku juga ikutan dag dig dug seperti yang dirasakan suamiku, menjelang acara peluncuran situs.
Tapi alhamdulillah sukses dan lancar, sampai acara berakhir. Setelah acara berakhir, giliran sesi foto bareng bang akbar. Nah tepat giliran para panitia foto bareng, aku juga bisa dapat kesempatan foto juga lho…..untung plus-plusnya lagi…aku bisa foto berempat (aku,suami,b.Nina n P.Akbar).
Setelah foto aku langsung jabat tangan b.Nina dan pastinya P.Akbar Tanjung dong…..
Betapa nervousnya diriku….pas salaman dengan Beliau!!Tp lumayan lah…biar ketularan pinter,rejeki n drajatnya. Amien…
Buat P.Akbar juga moga2 tambah sukses ajah, di karir politiknya.Semoga…..dan Amien…

27 Vs 32

April 21, 2008

Happy B’day ba-na2…………..!!!
Happy B’day Abangku Sayang………
Pebruary.21th.1981…..nana was born!
Pebruary.22th.1976….nanang b’day!
Tepatnya kemaren 21 Pebruari 2008 diriku genap berusia 27 tahun. Secara penggolongan usia sih dah masuk ke fase matang. Tapi layak ga yah???klo disebut matang. Klo aku pribadi sih menganggap dan cukup berupaya untuk menjadi matang secara alami dan proses yang utuh, tanpa ada paksaan (red=sok dewasa), tapi kematangan yang sesungguhnya adalah sesuatu proses alami dari setiap diri manusia untuk menyimpulkan suatu tindakan n keputusan yg dia ambil merujuk pada apa yg sudah pernah dia alami dengan proses penyortiran hal-hal yang dihindari pada proses sebelumnya.
Pasanganku boleh jadi terpaut usia yang cukup signikan dengan usiaku, tapi bukan berarti diriku jadi enak2an sok ga ngerti apa2 dengan tujuan biar dimanjain.Jelas tidak terbersit !!!! Malahan dengan peristiwa dari moment ke moment selanjutnya, aku akuin sejujur2nya sering membuat kesalahan, kebodohan, tak bisa mikir dgn jeli, intinya geblek banget lah………
Disitulah puncak terjadinya konflik, sementara di lain pihak sudah sangat merasa dewasa, matang, keinginan untuk membimbing aku yang sangat tinggi lah!! Tapi aku harus hargai niat baik itu sepenuhnya, gimanapun jg dia ingin aku jadi lebih baik, ya…klo aku boleh menilai, caranya juga kurang tepat. No problemo..buat aku, trial n error dalam suatu hubungan tuh sudah biasa, dengan fase itu kan kita bisa tuh nemuin ato lebih tepatnya lagi berkesepakatan..tuh dia neeh kayaknya cara yang pas buat hubungan kita b’dua..(ya kan bang???). Diantara kesepakatan itu beberapa diantaranya dapat terlihat dari beberapa hal yang melibatkan kita berdua untuk interaksi:
1.Mengerti apa yang menjadi hal yang paling sensitif satu sama lainnya (menyangkut harga diri).
2.Sangat perlu untuk diketahui apa yang menjadi keinginan utama dari tiap pribadi.
3.Satu sama lain tahu apa yang disuka baik itu perihal, sesorang atau apapun juga.
4.Belajar dari pasangan, apa yang kita tidak tahu kita harus berjiwa besar untuk menyetujuinya, dan begitu jg sebaliknya.
5.Ga gengsi untuk bilang ga tahu n ga paham daripada sok tahu, yang penting kan ga pura2 ga ngerti…pancen ga ngerti tenan kok!!!
Itu aja sih dari apa yang bisa aku uraikan tentang 27 Vs 32 tapi bisa balance kan???ga gampah tuh nyeimbanginnya, butuh berantem, menangis, ga direken…wes akelah pokok’e..!!!

SIM PDT………

April 21, 2008

SIM PDT……………
Sepintas terlihat begitu simple dan ready to use,…tp…???.
Faktanya…sangatlah tidak mudah buat aku pribadi, untuk membuat hal tersebut menjadi komplit, layak guna, layak tampil dan pastinya layak di kritik sama orang kan…??? kalo boleh pinjam istilah orang intelek sih….siap di analisa dari segala sisi.
Sebenarnya dalam diri sering muncul rasa gemes, ga tlaten, ga sabar, “ndang di apakno..gitu loh…ben ndang komplit…..”, tapi yo wes gpp, yang jelas aku kan dengan merujuk pada kapasitas diri sudah berusaha menjalankan apa yang seharusnya sekaligus menghindari hal yang ga perlu.
Konkretnya sih…….persoalan yang ada pada SIM PDT-ku sayang……… masih terhadang sama hal yang bukan bersifat teknis, murni urusan diluar itu. Kalo diturutin sebenarnya juga sangat mudah n tahu persis lah dimana penyebabnya. Cuma, memang sengaja diriku menempatkan diri sebagai employ….yang hanya tahu dan concern pada apa yang harus aku kerjakan. Bukan pada pelebaran pikiran….kenapa kok gini dan kenapa kok gitu, yang memang benar-benar bukan sesuatu yang harus aku nilai, analisa,apalagi sampai ambil sikap,…dipastikan salah jalur…tuh.
Dari awal aku tekankan baik-baik pada diriku, aku hanya ingin jalani kerja dalam hal ini karir, bukan fungsi yang lain. Kalo sampai rancu atau malah kita melakukan kebodohan untuk mengurusi hal yang bukan jadi tanggung jawab kita untuk mikir……salah satu bentuk pemborosan energi aja sih.
Terkadang aku sengaja memilih sikap cuek….n ga tolah toleh..tuh memang ada untungnya buat diri pribadi, kerja kita jadi jauh lebih optimal. Bagi sebagian orang mungkin ga sepaham dengan apa yang kulakukan, karena kalo aku boleh menilai sih….. banyak orang lho..yang ngerasa penting …..sok bijak…..sok ngerti strategi…sok ngamatin politisasi orang lain…. Halah….. bosen aku….dengan hal seperti itu………!!! Cape di otak, juga ga bikin kaya juga……..
Kalo hanya sekedar dapat informasi semata…..aku tetap hargai…gimanapun juga itu rejeki informasi yang aku dapat, aku simpan di data pikiranku, tapi bukan untuk di bedah….
So….SIM PDT-ku sayang…………komenku buat dirimu………….
Kau relatif……….kadang terlihat simple………kadang terlihat rumit…………
Tergantung Cuaca yang ada…………
Pertanyaannya : “Siapa kah yang mengatur Cuaca bagi SIM PDT-ku sayang……???”
Yah……………… ujung-ujungnya……..sejumlah kesepahaman yang bersayap kan???

Kalau Sudah Cinta…

April 21, 2008

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya?
Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya…

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, “Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.”

Tapi lelaki itu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi”. Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.”

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati…terkembang dalam kata…terurai dalam laku…Kalau hanya dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata… Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjuntai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta ini hanya mungkin lahir dari pribadi yang punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pencinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai menjadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.

Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii, Kalau sudah pasti ada cinta disisimu Semua kan jadi enteng Dan semua yang ada diatas tanah Hanyalah tanah jua.

Lihat langsung di : http://oryza.blogsome.com/?s=kalau%20sudah%20cinta&paged=2

Kalau kita sepakat bahwa obyek kajian filsafat adalah untuk mengetahui realitas atau hakikat segala sesuatu maka pertama-tama kita harus membedakan terlebih dahulu paradigma filsafat Barat dan paradigma filsafat Islam.

Dalam filsafat Barat (baca: modern) realitas obyektif adalah dunia materi, fisikal, atau lahiriah. Realitas adalah segala sesuatu yang hanya dapat ditangkap melalui metode ilmiah. Hampir-hampir mereka menganggap bahwa dunia ini tidak memiliki dimensi transendental. Kita tidak akan mendapati konsepsi yg jelas dari filsafat barat mengenai realitas spiritual.Oleh sebab itu aliran yang berpengaruh kuat dalam filsafat barat adalah materialisme, empirisme,atau positivisme yang selanjutnya menjadi fundamen ilmu sains.

Meski demikian ada aliran yang kurang lebih mengandung gagasan tentang realitas spiritual seperti dalam idealisme atau eksistensialisme. Namun itu hanya berakar dari gagasan rasional semata yang senantiasa mereka tempatkan di dalam dunia ide. Bagi mereka dunia ide ini tidak nyata.

Sebaliknya, dalam Islam –sebagaimana diadopsi dari Plato– dunia Ide ini adalah dunia nyata. Dunia nyata adalah alam haqiqah, dunia obyektif yang sesungguhnya.

Realitas dalam konteks pengetahuan Islam tidak terbatas pada relitas empirik saja (inderawi), tetapi juga realitas ide tersebut yang sering disebut sebagai realitas spiritual. Oleh sebab itu aliran filsafat dalam Islam juga banyak beririsan dengan aliran mistik (sufisme).

Wahyu Islam memandang bahwa manusia telah dianugerahi fakultas- fakultas untuk mengenali alam dan bentuk-bentuk kesadaran untuk mengetahui realitas di sekitarnya.Oleh sebab itu di dalam filsafat Islam tidak hanya diakui dunia empiris yang bisa dicerap indera, tetapi juga pengetahuan rasional hasil dari spekulasi akal, dan pengetahuan intuitif yang berasal dari cerapan qalbu.

Saya setuju dengan kategorisasi yang dilakukan oleh Murtadha Muthari (1993) yang membagi empat metode pemikiran (baca: metode filsafat; yang selanjutnya bisa disebut sebagai aliran filsafat) yang masing-masing memiliki karakter khusus di bawah pengaruh ajaran Islam, yaitu:

a. Paripatetism (Masyaiyah)
Mengandalkan deduksi, logika, dan spekulasi rasional. Mengadopsi gagasan filsafat yunani yang secara tidak langsung mensintesakan ajaran Aristoteles dan Plato. Tokoh-tokohnya seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina (periode awal), Ibn Rusyd, dll

b. Kalam
Mengandalkan deduksi rasional dan logika yang didasarkan atas teks-teks atau postulat-posutlat wahyu. Mereka yang tidak pernah menggappendekatannya sebagai pendekatan filsafat ini melahirkan tiga aliran besar teologi Islam: Mu’tazilah, Asy’ariyah dan (silahkan sepakat atau tidak:) Syi’ah.

c. Irfan (atau ma’rifah)
Mengandalkan intuisi mistik, melalui metode penyucian bathin. Aliran ini merupakan mainstream utama dalam aliran sufisme, tokoh-tokohnya seperti: Al-Hallaj, Abu yazid Bustami, Syibli, dan lain-lain.

d. Iluminasi (isyraqi)
Menggabungkan seluruh metode dengan memberdayakan keseluruhan potensi laten manusia baik itu rasio, logika, intuisi, dll. Tokoh-tokoh aliran ini misalnya Suhrawardi, Ibn Arabi, Mulla Sadhra, Iqbal, dll.

Langsung lihat di:

http://oryza.blogsome.com/2005/10/08/aliran-filsafat-islam-kontemporer/