We are Expecting

Oktober 29, 2008

New Baby Myspace Comments

Semoga lancar2 selalu ampe proses kelahiran ntar….

Apapun yang aku alami saat ini, morning sickness, tiba2 pusing ato apalah…itu bagian dari fase yang harus dilewatin, aku anggap aja..itu smua sebagai bentuk proses perkenalan janin denganku, biar lebih dekat secara emosional, kadang lucu jg sih…..

Ketika aku lagi enak2 ngobrol, dan lagi serunya atau lagi debat sekalipun….tiba2 aku mual dan dalam istilah jawa biasa disebut “mlukok”…Nah tuh artinya si janinku pengen diperhatikan juga, aku sadar betul sih…pas waktu aku lg asyik ngobrol ato segala bentuk pembicaraan,kadang suka lupa klo lg ada janin ato hamil(maksudnya saking asyiknya..tp bukan berarti ceroboh).

Itu artinya masukan bagus sih buat aku….artinya 3 bulan pertama masa kehamilan, ngga harus jadi momok buat ibu2 yg baru memasuki kehamilan. Dan kedekatan dengan janin dari sejak usia kehamilan dini, mang perlu, ya sedikit banyak lebih tau polanya lah…baik itu pergerakan, pertumbuhan dan hal2 yang tak terverbalkan lainnya….

Dan semoga diberikan sehat wal afiat dan kelancaran Amien…..

Terimaksih banyak……Ya Gusti Allah…..

Dan mohon doanya …dari semua teman2…

thanks b4…

MET LEBARAN YAH….

September 22, 2008

Assalamualaikum Wr.Wb

Tak lebih dari 10 hari lagi, sudah masuk di bulan syawal, semoga kita menjadi fitrah kembali, di Hari Raya Idul Fitri, setelah 1 bulan menjalani ibadah puasa Ramadhan. Amin..

Dari lubuk hati yang terdalam, dengan penuh tulus ikhlas, Aku (Yudha Erna), mau ngucapin buat semua rekan dan kerabat :

” Selamat Hari Raya Idul Fitri , 1 Syawal 1429 H “

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN , MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

suikerfeest.jpg

Wassalamulaikum Wr. Wb

Aktivis Mendadak Caleg…

September 4, 2008

Setelah aku beberapa saat sempat membaca lansiran berita tentang beberapa nama caleg dari sejumlah partai yang lolos verifikasi KPU, aku sempat tersentak tapi tak begitu lama sih…! dan lanjut concern siapa-siapa aja yang masuk dalam list Menuju ke Kursi Legislatif tersebut.

Tersebutlah beberapa nama Desmon Junaidi Mahesa (korban penculikan 10 tahun lalu dan kini menjadi pengacara profesional Eka Cipta Wijaya dan Tommy Winata), dijadikan Caleg untuk Dapil Kalimantan Timur dari partai Gerindra, kemudian Pius Lustrilanang (korban penculikan aktivis pro demokrasi 1997/1998, yang saat ini dia membentuk organisasi para militer BRIGASS: Brigade Siaga Satu) dia menjadi Caleg untuk Dapil Nusa Tenggara Timur dari Partai Gerindra juga (sebuah partai yang dimotori Prabowo Subianto dan Muchdi PR). Dita Indah Sari (aktivis serikat buruh) yang menjadi Caleg untuk  daerah Jawa Tengah V Boyolali-Solo dari Partai Bintang Reformasi.

Langkah mereka seolah ingin mengikuti jejak rekan-rekannya yang sudah lebih dahulu mencicipi kursi parlemen dan menjadi anggota partai, seperti Anis Matta (Partai Keadilan Sejahtera) dan Nusron Wahid (Partai Golkar).Budiman Sujatmiko(PDI-P), Andi Arief (Partai Demokrat).

”Saya masuk politik praktis, dalam hal ini parpol, karena untuk menciptakan perubahan yang nyata dibutuhkan kekuatan politik. Jika dahulu saya berjuang lewat demonstrasi, sekarang semoga dapat melalui DPR,” (Budiman Sujatmiko).

Pendapat hampir senada disampaikan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (Pena 98) Adian Napitupulu. ”Salah satu rekomendasi Pertemuan Nasional Pena 98 pada Juni 2007 adalah berusaha masuk ke ruang politik legal untuk memastikan ada perubahan seperti yang diharapkan. Sebab, setelah direfleksikan, gerakan kami selama ini punya satu kekurangan, yaitu kami tidak punya kemampuan untuk melaksanakan kebijakan. Kami mencoba mengatasi masalah itu dengan masuk ke parlemen,” kata Adian. Sebagai bagian dari pelaksanaan rekomendasi tersebut, lanjut Adian, sebagian anggota Pena 98 sekarang tersebar menjadi caleg di 23 provinsi, baik untuk tingkat pusat maupun provinsi, dengan berbagai nomor urut dan partai politik.

Pius Lustrilanang, salah satu korban selamat dari penculikan aktivis 1997-1998, juga memutuskan masuk daftar caleg dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) karena berpandangan, pelaksanaan perubahan membutuhkan kekuatan politik. Saat disinggung bukankah anggota Gerindra antara lain Prabowo Subianto dan Muchdi Pr, dua mantan perwira tinggi TNI yang harus melepaskan jabatannya karena diduga ikut bertanggung jawab dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998, Pius menjawab, ”Dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi. Selain itu, keterlibatan mereka dalam kasus itu sudah selesai secara hukum.”
Bahkan, lanjut Pius, bergabungnya dia di Gerindra sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi nasional, yang merupakan salah satu modal penting yang dibutuhkan Indonesia untuk maju. ”Mereka yang mengaku reformis sekarang sikapnya juga banyak yang sama dengan Orde Baru, keras kepala dan otoriter. Jadi, akhirnya semua tergantung orangnya, dengan komitmennya,” tegasnya. Sebelum bergabung dengan Gerindra, Pius pernah menjadi anggota PDI-P dan Partai Demokrasi Pembaruan, serta mendirikan Partai Persatuan Nasional.

Apa pun alasan atau pertimbangannya, dalam alam demokrasi seperti sekarang sah-sah saja para mantan aktivis itu terjun ke politik praktis. Itu adalah bagian dari hak politik mereka sebagai warga negara. Keputusan mereka terjun menjadi caleg ini pun dinilai penting bagi kaderisasi kepemimpinan nasional.
Dalam sistem politik yang terbuka seperti saat ini, perbaikan kehidupan berbangsa tidak cukup dilakukan dengan berteriak-teriak, memberikan koreksi dari luar sistem. Dibutuhkan sejumlah orang baik dan berkualitas untuk masuk ke dalam sistem guna memperbaiki dari dalam. Bahkan, kebangkitan Indonesia diyakini akan lebih cepat terjadi jika ada jaringan kerja dan komunikasi yang intensif antara mereka yang berada di dalam dan luar sistem. Namun, di sisi lain, masuknya para aktivis yang rekam jejaknya masih relatif bersih dan muda ini dalam daftar caleg juga menguntungkan parpol pengusungnya. Para aktivis itu dapat ”menutup” sejumlah catatan buruk parpol di masa lalu. Bahkan, parpol itu dapat dinilai ”reformis” atau menjanjikan perubahan. Citra itu tentu dibutuhkan untuk menambah perolehan suara di Pemilu 2009.
Keberadaan para mantan aktivis itu juga akan menambah posisi tawar parpol yang bersangkutan ketika kelak harus membangun koalisi atau bekerja sama dengan kekuatan politik lain.

Disamping itu juga Caleg Aktivis Lebih Baik daripada Artis karena mereka itu relatif bersih dan terjun langsung ke lapangan jadi sudah berpengalaman bersentuhan dengan masyarakat. Apabila dibandingkan dengan Caleg para selebritas bisa dilihat saja dampak bagi rakyat, bila input-nya instan sangat mungkin output-nya akan bermasalah. Tanpa proses inisiasi melalui pengkaderan yang cukup untuk masuk medan politik, bisa jadi para pesohor tersebut tetap akan menjadi pajangan ketika duduk sebagai anggota Dewan. Hingga kini pun kita sulit mengukur kinerja para artis yang duduk di Dewan. Apakah, misalnya mereka pernah bersuara atau tidak dalam rapat-rapat di DPR.

Akhirnya, kelak waktu yang akan menjelaskan alasan utama dan sebenarnya dari bergabungnya para mantan aktivis itu menjadi caleg. Apakah sungguh karena alasan taktis, yaitu untuk mengefektifkan perjuangan membangun Indonesia yang lebih baik? Atau hanya karena alasan pragmatis, yaitu karena tidak tahan untuk mencoba menikmati manisnya madu kekuasaan? Atau, bisa juga hanya bagian dari upaya pemenuhan hasrat petualangan belaka. Yang jelas, aktivis 1966, Soe Hok Gie, pernah menyayangkan sikap sebagian temannya yang mulai melupakan komitmennya karena terlalu menikmati nyamannya naik sedan Holden.

Semoga realitas itu tidak kembali terulang …..

Jam di meja kerjaku dah nunjukin jam 15.00 WIB, waktunya ngacir nih…! Operator kantor dah announcement bila jam kantor berakhir di jam tersebut. So, aku kepikiran kalo belon nyiapin takjil buat menu buka puasa untuk aku berdua, bersama suami. Selintas langsung tertuju pada atmosfer kemeriahan ngabuburit di Bendungan Hilir (Benhil). Dan ga pake mikir ini itu lagi, aku langsung bergegas ke kawasan itu.

Setelah aku nebeng mas danil ampe di hotel Millenium Kebon Sirih, aku langsung nyambung pake bis dan meluncur ke Benhil. Berangkat dari kantor jam 15.00 dan nyampe sana sekitar 15.35 karena Thamrin dan Sudirman sudah mulai “pamer”(padat merayap), waduh….bisa lama nih!!!tapi yo untung keburu juga sih…

Setelah turun di halte bis dan jalan dikit sekitar 200 m lah dari lokasi, dan emang asyik banget sih…betapa yang kuliat, serasa pengen dibeli semua, tapi ya untungnya rasioku tetep jalan. Karena mubadzir kan kalo banyak yang dibeli tanpa menghitung berapa orang yang harus mengkonsumsinya.

Bazar Ramadhan 2006 by ~erwin~.

Awalnya aku berniat untuk keliling, agar tahu menu takjilan apa saja yang dijual di Bazar Ramadhan Benhil tersebut, tapi aku tiba-tiba terhenti ketika melihat lapak kue-kue basah,”asyik nih” kalo disantap untuk batalin puasa sebelum masuk ke hidangan utama, ya itung-itung “Appertizer For Fasting Break” lah, maka segera beli Risolles, Lumpia Kering, Dadar Gulung, dan Heci Udang, nyam-nyam banget…!

Snacks for Fasting Break by ~erwin~.

Dan menu takjil yang mengandung air (traditional beverage) aku beli bubur sumsum+gula jawa, dan jenang gendul dari beras ketan+santan yang dicampur gula jawa.

Sesampai dirumah langsung aku dinginkan di lemari es, dan aku siap-siap memasak untuk hidangan utama dan menu makan sahurnya ntar, biar ga kerja dua kali gitu. Setelah semuanya dirasa sudah siap, ya aku angkat semua ke meja makan. Untuk tinggal dinikmati pas bedug Maghrib berkumandang.

Nah, pas Adzan Maghrib telah kudengar akhirnya aku sesegera mungkin untuk Break Fasting, dengan minum sari jeruk dingin, sebagai penetralisir aja sih, karena kalo langsung yang manis-manis, bisa neg duluan. Dari kesemuanya yang udah aku siapin tadi sebenarnya ada yang kurang sih, dan itu ngaruh banget ke semua yang udah aku persiapkan,karena serasa useless aja sih. Hal itu adalah dengan absennya Nanang di buka puasa pertamaku, dengan alasan satu dan lain hal, dia malah berada di lokasi yang beda pas waktu itu, dia mutusin untuk ke Mal Ambassador untuk beli installer program untuk dia punya laptop. Alasan dia sih,karena cuaca hujan so, rencana ke Ambass jadi mundur, dan untuk buka puasa di rumah jadi ga terkejar. Aku terima aja itu alasan, dengan catatan karena itu situasi diluar dari yang direncanakan. Tapi jangan sampai terjadi kalo kenyataannya diriku lebih penting ketimbang “Laptopnya itu”…. ya betapa unlukcky nya diriku, dan sebaliknya betapa payahnya Nanang.

Tapi kalo dipikir secara mendalam, dengan kondisi seperti itu baiknya sih aku ga banyak kata, dengan begitu setidaknya berdamai dengan diri itu jauh lebih baik dan sangat sulit sih dilakukan, ketimbang hanya ngomelin dia yang juga belum tentu “apakah dia juga ngerasa salah bertindak”. Setidaknya aku sudah melakukan apa yang seharusnya di bulan ramadhan ini, aku sudah berusaha untuk tetap commit pada diri “Lakukanlah segala sesuatu selagi bisa, tanpa harus ada keinginan untuk dinilai”. Dan semoga di Ramadhan ini aku bisa ibadah dengan khusyu’, dan semoga keberkahan dan rejeki senantiasa melingkupi keluargaku selama itu menjadi hak kami. Karena ga baik juga hidup serba berkelebihan tapi masih saja ada keluhan dalam kehidupannya yang ini itu, ga jelas… itu artinya semua kelebihan harta yang dia pegang belum sepenuhnya dia syukurin, Hidup di dunia tidak Gratis, semua ada harganya, dan itu bukan takaran nominal yang dinilai, tapi apa yang dia kerjakan baik ke diri atau orang lain, begitu juga dia akan menerima, mungkin di hal lain dalam kehidupan. Dari Hakikat kehidupan itulah, aku setidaknya menjadi optimis dalam nglewatin ini semua dari hari ke hari, karena aku berani ngomong, bukan berarti ga pernah mengalami dan menyaksikan kenyataan kehidupan, dari situlah fitrah akal dan pikiran kita harus berfungsi untuk mencerna “Petunjuk apa yang aku peroleh ini?”…. Marhabban Ya Ramadhan….dan semoga puasaku lancar…Amien.

2 tahun lalu di 4 Agustus 2006 jam 08.00 di Jl.Nongkojajar No.6 Purwodadi, Pasuruan dengan Wali Nikah Bapakku yang di wakilkan ke Penghulu Nikah (Kepala KUA), diriku “Yudha Erna Susanti binti H. Doerasim” resmi di nikahi oleh seorang Pria Kelahiran Jember “Nanang Andi Setiawan” dengan mas kawin tersebut tunai…dan Alhamdulillah lancar dan Syah, tanpa harus latihan. Hebat Nang…ga nervous dan sukses.

2 tahun berlalu, dan kini di tahun 2008, tanggal 4 Agustus jatuh di hari Senin, So…seorang Nanang opo yo sempat pake acara anniversary segala. Jawabannya jelas “Ga sempat”. Seperti apa yang ku prediksi jauh-jauh hari, 2nd anniversary itu ga bakal ada yang sedikit special ketimbang hari biasanya, Nothing special dan jauh dari kesan extra ordinary, tapi ya gimana lagi…Namanya orang sibuk dengan kerjaan itu apa bisa disalahkan. Tentunya aku sendiri juga mikir-mikir, apa landasan utamaku untuk protes bahwa itu penting untuk di sempatkan untuk merayakannya bersama, mesti itu sebentar (just a moment please..). Nyatanya juga ga ada yang khusus tuh, yah dia hanya ngucapin “met 2nd anniversary” aja, itupun juga lewat Chat.

Pada dasarnya aku memang ga butuh perayaan khusus sih..sebangsa celebration gitu, seperti sengaja nglewatin berdua di romance place gitu juga ngga kan… pertama juga ga ada waktu dari Nanang, kedua juga terlalu “Kabanyakan Komersiil”, tapi mengingat itu penting, istilah jawa nya “Nenger’i” biar ga lupa dan lewat begitu saja, meskipun itu terkesan simbolis tapi ada benefit nya kok buat hubungan kita berdua, setidaknya buat recharge lah biar jauh lebik baik lagi.

Intinya di 2nd anniversary ini ga ada yang special ritual khusus yang musti di jalanin, padahal maksud hati aku juga pengen sih dapet surprise apa kek…jelek-jelek gini kan aku juga perempuan kan, ya masih pengen lah hal-hal yang berbau special, Moment yang sengaja dikhususkan. Tapi yo piye maneh…semuanya balik lagi ke urusan kantornya Nanang yang byuh…bejibun…akeh banget urusannya, kalah pengusaha HIPMI tapi complain percuma, nuntut juga sama dengan bohong, Mengeluh juga sama dengan ngomong sendiri. So, klo mo happy jadi istrinya orang yang bekerja di tempat kerjaan Nanang atau yang sejenis, emang musti harus sedikit senewen, bikin kegembiraan sendiri, lha klo aku ga mau dibilang senewen sama orang, masih pengen di anggap normal, ya pilihannya hanya diam, lewatin smua, ga banyak komentar, ga banyak heran, ga banyak tanya, ga banyak seneng2 (karena butuh duit banyak tuh..). Istilah paket nya : Paket Hemat Ga Banyak Cakap. Bukan berarti aku suka banget sama kondisi ini, tapi NO MORE….. ga ada pilihan.

2nd Anniversary my wedding No celebrate, No Party, No More………. ga ada pilihan!!!!

Aku sempat baca di dalam salah satu figure yang memuat statistik pencapaian IPG (Indeks Pembangunan Gender) tahun 2005 menunjukkan prosentase 65.1 dan di intrepetasi kan kemajuan kualitas hidup perempuan yang meningkat dari tahun sebelumnya,data tersebut versi Kemeneg.PP dengan BPS. Dapat diartikan kualitas Perempuan Posmo Modern bisa dikatakan layak.

Hal diatas wajar terjadi, karena wilayah realitas perempuan pada satu sisi Modernisme yang menawarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, cara berpikir serta pola hidup. Dari keberhasilan itulah erat keterkaitannya dengan gerakan feminisme. Momen 21 April sangat tepat rasanya kalo hal yang paling layak di sorot adalah emansipasi atau gerakan feminisme. Tapi kali ini aku lebih tertarik pada kenyataan empiris yang terjadi di masyarakat, dengan mengamati streotype yang terjadi pada gerakan feminisme tersebut, disitu pasti ada suatu pesan implisit yang bisa kita tangkap.

Sebenarnya kita sebagai perempuan, harus mengambil sikap seperti apa dan pada posisi feminisme yang seperti apa. Dua hal paradoks terjadi pada perempuan, ada sebagian perempuan yang diposisikan subordinat oleh kaum lelaki sehingga mengalami kekerasan fisik (physical violence), kekerasan emotional (emotional violence) maupun kekerasan seksual(sexual violence). Disisi lain ada juga wanita yang menangkap emansipasi sebatas simbolik saja, seperti pakaian wanita yang minim, wanita yang beraktivitas kelewat jam malam, berjudi,merokok,mabuk dan banyak hal negatif lainnya.

Dari streotype yang paradoks diatas, esensi yang terdapat pada emansipasi atau gerakan feminisme sendiri menjadi kabur. Tentu saja sangat positif ketika kita menemukan para kaum hawa yang menjabat sebagai pemimpin lembaga pemerintahan, menjadi ahli nuklir, atau cendekiawan. Tetapi ketika kaedah moral, agama, dan sosial-budaya yang telah menjadi standar kehidupan masyarakat diabaikan, maka yang terjadi adalah porak porandanya kehidupan modern karena manusia telah kehilangan pegangan hidup.

Maka emansipasi yang over seperti ini yang malah akan membawa arus balik berupa pelecehan terhadap perempuan. Memaknai gerakan emansipasi secara proporsional dan kontekstual adalah solusinya, di era yang global ini. Masa depan globalisasi yang menuntut peranan wanita di sektor publik akan tercapai dengan baik ketika perempuan sendiri tetap berpegang pada kearifan lokal (local wisdom).

Kita nanti bisa mengukur prestasi dari gerakan feminisme yang sedang marak ini, dengan beberapa standar nilai. Pertama, apakah gerakan feminisme akan berhasil membuat konstruksi sosial-masyarakat menjadi tenang dan bersinergi. Kedua, setelah gerakan feminisme hadir dengan totalitasnya, apakah angka kejahatan akan berkurang atau bertambah. Ketiga, lebih dominan manakah antara prestasi yang dicapai gerakan feminisme dengan efek negatif yang ditimbulkannya.

Dengan ukuran nilai diatas, maka keputusan dan sikap yang kita ambil dalam memposisikan diri kita pada Model Feminisme yang seperti apa, dapat terarahkan. Kembali kepada apa yang diprediksi oleh John Naisbitt dan Patriia Aburdence, bahwa perempuan sebagai future leader akan dapat diujikan, minimal di negeri Indonesia. Disini pula letak proyeksi globalisasi dengan gerakan feminisme yang dipropagandakan selama ini.

Buat diriku pribadi, aku akan berusaha untuk menjadi perempuan yang tetap pada hakekatnya. Mengakui adanya keberadaan Emansipasi dan segala bentuk gerakan feminisme, karena bagaimanapun juga untuk hal itu, melewati proses yang tidak mudah. Tapi point nya lebih pada bagaimana sikap yang aku pilih pada bentuk Feminisme tersebut, dan aku lebih cenderung pada feminisme yang proporsional, karena aku masih mau dan sangat mau untuk mendengarkan masukan, kritik, rekomendasi,atau bahkan nasehat sekalipun, dengan catatan apa yang dikatakan itu memang masuk akal dan hati serta pikiranku tidak complain. Dengan begitu aku semakin diuntungkan, banyak hal baru yang aku tahu, wawasan bertambah, watak semakin matang, karena pertimbangan semakin beragam. Disitu Equality kualitas berpikir kita kaum perempuan dikomparasikan kaum pria semakin terbukti.

Kuncinya sederhana, menjadi perempuan yang sebenarnya, atau yang lebih dihargai (respect) oleh pria, baik itu dalam sekup pekerjaan, pergaulan, organisasi, bahkan yang lebih personal seperti pola hubungan pribadi, suami-istri atau yang belum berumah tangga sekalipun. Kita, perempuan dalam hal ini ada baiknya untuk pandai dan mengerti betul bagaimana menempatkan posisi kita (istilah jawanya: pinter ndeleh awak), karena kalo kita masih punya rasa gengsi (takut dibilang bodoh), ya pastinya penilaian mereka memang kita dianggap tidak begitu tau banyak hal atau “Kurang Wawasan”, buktinya masih jaga gengsi??? karena semakin kita so gengsi, so tau banyak hal, justru malah ga mendapat informasi baru lho dari orang lain, ya ketinggalan info lah kita…… !!! Maka, baiknya kita mau mendengarkan orang lain, mau di kritik orang, mau di ingatkan sama pasangan sendiri, tidak sungkan untuk minta maaf bila salah, berani mengungkapkan apa yang kita inginkan dan tegas (jangan hanya berani ngomongin di belakang), dan yang tidak kalah pentingnya salah satu anjuran untuk menjadi hal yang membuat laki-laki respek sama kita adalah “Mengerti apa yang disuka dan tidak disuka sama laki-laki dari personality kita” , So dengan Feminisme Proporsional ini ga ada salahnya kita jauh lebih mengerti tentang sisi kejiwaan dari sosok seorang laki-laki. Sederhana keliatannya tetapi bagi sebagian wanita yang tidak menguasai ilmu tersebut, terkadang kebosanan dan kejenuhan melanda pada pasangan atau teman laki-laki dari perempuan tersebut. Karena besar kemungkinan perempuan tersebut, hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, apa yang seharusnya dipenuhi pasangannya terhadap dia, mencari-cari kesalahan dari pasangannya, tanpa tau apa yang menyebabkan itu semua terjadi, bisa jadi dari kita sendiri (perempuan) atau pasangannya (laki-laki). Makanya diomongin langsung kan jauh lebih nyaman, tau pokok masalahnya.

Aku menyoroti hal itu dengan tajam, bukan berarti hal tersebut sekedar wacana lho!! Realitasnya sering terjadi di masyarakat karena ketimpangan dari pola pikir kita (perempuan) dibanding kaum pria. Kesimpulanku, untuk menunjukkan keeksisan kita tanpa harus merendahkan laki-laki, banyaklah belajar, membaca dan mendengar (itu penting), kan malu kita sebagai perempuan kalau dibilang kurang wawasan, taunya cuma itu-itu aja….!!! jangan dulu merasa bangga kalo kita mahir pada bidang yang kita tekuni saja (No Wonder lah…), sementara wawasan yang lain nya minim. Jangan deh…..!!! Ayo bangkit perempuan, tunjukkan kalo kita memang layak untuk di dengarkan (dengan catatan omongan kita harus berbobot). Dengan seperti itu bukti nyata dari Proporsional Feminisme akan terlihat . Let’s Try…..!!!

Dari semenjak lahir sampai sekarang, betapa payahnya kita kalau sampai tidak mengenali diri sendiri. Karena sebelum melangkah pada fase yang banyak orang menyebutnya dengan istilah personal development, terlebih awal dan amatlah penting untuk mengenali diri sendiri.Mengenali diri sendiri adalah dasar dari upaya untuk mencapai target diri dalam kehidupan.

Dalam strategi perang Sun Tzu disebutkan:

1. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, maka 100 kali berperang dan 100 kali menang.

2. Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri tetapi tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan , maka 100 kali berperang, 50 kali menang dan juga 50 kali kalah.

3. Tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri maupun lawan, maka 100 kali berperang dan dipastikan 100 kali kalah.

So….. betapa pentingnya kenal Siapa dirimu???

Masih menurut Sun Tzu juga menyebutkan pola strategic thinking dapat diaplikasikan ke dalam 4 tahap: mengenali diri sendiri, memposisikan diri, mendobrak diri, dan aktualisasi diri. Ada baiknya kesemuanya dijalankan secara continity, biar dalam diri kita kedapatan efek pemanfaatan potensi diri yang optimal.

Dalam diri tiap manusia selalu terdapat sesuatu yang disebut dengan potensi, yang terdiri dari kekuatan fisik dengan otak sebagai pengendalinya, dan kekuatan metafisika yang dikendalikan oleh hati nurani. Bila pusat pengendali tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, bisa dibilang sih….itu merupakan bentuk pengingkaran atas kesempurnaan manusia.

Perlu diketahui lho… potensi yang ada dalam diri yang merupakan anugerah dari Tuhan bisa membantu kita agar terlepas dari kesulitan hidup. Sebab kesulitan hidup bukanlah nasib atau takdir , namun lebih pada bentuk ketidaktahuan dan kemalasan manusia dalam memanfaatkan dengan optimal dari semua potensi diri yang ada.

Untuk mengembangkan diri sangatlah ditentukan dari cara berpikir kita (pikiran sadar, pikiran bawah sadar, visualisasi dan afirmasi). Apabila ingin mengubah kebiasaan dalam bentuk tindakan dan sikap dalam kehidupan sehari-hari dianjurkan untuk diawali pada proses “Merubah Cara Berpikir”. Karena perubahan adalah kekuatan paling dasyat di dalam masyarakat , bahkan ada sebagian orang yang takut dengan perubahan. Hanya mereka yang membuka pikirannya terhadap konsep-konsep baru yang akan selalu bergerak ke tingkat prestasi dan kesempurnaan yang tinggi.

Tidak ada kata terlambat untuk menjadi sukses, karena perlu adanya keyakinan optimal agar mampu melakukan hal besar, dan agar bisa menetapkan tujuan hidup dengan spesifik dan terukur, yang terdapat lompatan-lompatan didalamnya menuju pada hasil yang besar. Selain itu, tanpa sesuatu yang menjadi fokus maka keputusan dan tindakan yang diambil dalam keseharian tidak akan memiliki arah jangka panjang dan tidak akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan, sebab tanpa sebuah arah akan terjebak pada kondisi stress dan monoton.

Dari apa yang diulas diatas, sebaiknya sih……..

Bekerja keraslah untuk memperbaiki pikiran, tubuh dan semangat diri. Memulai hidup dengan energi dan semangat tanpa batas. Tidak menunda untuk segera bertindak untuk mendapatkan kesempatan baik pertama yang datang di hari ini, karena semua yang besar dibangun dari hal kecil yang menjadi komponen pembentuknya. Dan……

Buang jauh-jauh pikiran untuk memulai sesuatu yang telah lama dipikirkan, karena akan menjadi pemborosan waktu. Waktu yang tepat itu tidak akan datang!!!

Pada akhirnya….. semoga aku sudah kenal Siapa diriku……

Mencapai kesuksesan sebuah korporasi bahkan negara, tidaklah semudah yang di bayangkan. Membutuhkan proses yang panjang untuk bisa sampai pada fase tersebut. Diantara beberapa faktor penentu kesuksesannya itu salah satu diantaranya sangat ditentukan dari kualitas leader atau pemimpinnya.

Dewasa ini, hal tersebut sangat complicated, hanya untuk sekedar bertanya “Bagaimana seorang Pemimpin Ditemukan?”. Apa yang menyebabkan sulitnya menemukan seorang pemimpin? Apakah setiap orang bisa menjadi pemimpin? Siapa yang paling sesuai untuk menjadi pemimpin, tua atau muda?

Sebenarnya setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin, meski kemampuan dari masing-masing orang berbeda. Setiap orang juga memiliki chance yang besar untuk menjadi pemimpin. Semuanya kembali lagi pada calon pemimpin tersebut dalam mengeksplorasi potensi dari dirinya secara optimal. Untuk mendapatkan nilai-nilai kepemimpinan dalam diri seseorang diperlukan adanya kombinasi antara bakat dan kompetensi yang bisa dikembangkan dengan balance.

Pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri baru bisa memimpin orang lain. Kepemimpinan itu bisa dibentuk sesuai dengan kompetensinya. Memang ada sebagian orang yang born to lead , tetapi buat mereka yang bukan termasuk born to lead, kepemimpinannya juga masih bisa diasa, di kembangkan, dan ditingkatkan lagi sehingga memunculkan sikap ketegasan dalam diri. Karena hal itu merupakan cerminan karakter pemimpin yang sekaligus menjadi panutan bagi bawahan atau anggota timnya.

Disamping itu kepercayaan terhadap orang lain juga sangat dibutuhkan bagi pemimpin, karena apabila seorang pemimpin tidak mampu mempercayai bawahannya, maka akan menyulitkan buat si pemimpin dalam hal mendelegasikan tugasnya. “Jangan harap bawahan bisa percaya pada pimpinan, jika pimpinan tidak mempercayainya”.

Yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan bagi seorang pemimpin adalah dianjurkan untuk lebih instingtif , karena di kehidupan nyata terkadang ada orang yang pandai memanipulasi keadaan, mampu menunjukkan sifat-sifat positif, bahkan melampaui kapasitas dirinya padahal pada kenyataannnya tidak seperti itu. Jadi seorang pemimpin harus bisa melihat itu, semakin lama dia memimpin maka insting nya semakin terasah, dan mencapai tingkat kematangan (emtional quation). Tingkat kematangan datangnya lain pada tiap-tiap orang, tergantung pada usia, pengalaman, dan kesempatan.

Seorang pemimpin tidak hanya dilahirkan begitu saja, namun harus dibangun dan mempunyai standarisasi, dan menjadi pemimpin yang berkarakter, karakter yang dimaksud adalah harus memiliki kepintaran yang didapat dari pendidikan serta pengalaman yang ditunjang dengan keahlian, namun jangan terjebak pada kriteria-kriteria pemimpin yang berkarakter, aspek penempatan juga perlu diperhatikan, sebab meski pemimpinnya berkarakter tetapi penempatan tidak sesuai maka akan percuma saja. The rightman On the right place.