Mikul Dhuwur Mendhem Jero
April 21, 2008
HM Soeharto
Versi I
Di saat demonstrasi mahasiswa mewarnai suasana Jakarta, di Istana Merdeka saya mengadakan dialog dengan Bung Karno. Itu menyambung pembicaraan mengenai situasi dan mengenai PKI. Saya berkeyakinan bahwa pikiran Bung Karno mengenai jalan keluar kurang tepat. Saya terus berusaha supaya beliau mengerti dan menyadari perubahan yang telah terjadi. Sampai akhirnya rupanya beliau bertanya-tanya, mengapa saya tidak patuh kepadanya.
Sewaktu kami berdua, Bung Karno bertanya dalam bahasa Jawa, di tengah-tengah suasana Jakarta, “Harto, jane aku iki arep kok apakake?” (Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan?) Aku ini pemimpinmu.”
Saya memberikan jawaban dengan satu ungkapan yang khas berakar pada latar belakang kehidupan saya.
“Bapak Presiden,” jawab saya, “Saya ini anak petani miskin. Tetapi ayah saya setiap kali mengingatkan saya untuk selalu menghormati orang tua. Saya selalu diingatkannya agar dapat mikul dhuwur mendhem jero (memikul setinggi-tingginya, memendam sedalam-dalamnya; menghormat) terhadap orang tua.”
Dengan jawaban itu saya bermaksud dan bertujuan seperti kudangan ayah saya kepada saya. Orang tua saya, sekalipun petani, orang kecil, orang yang tidak mendapatkan pendidikan formal, mempunyai kudangan terhadap anaknya, mempunyai cita-cita mengenai anaknya, yakni agar saya ini menjadi anak yang bisa mikul dhuwur mendhem jero pada orang tua. Saya pun mempunyai keyakinan bahwa pegangan hidup seperti itu adalah benar, dan tepat sekali.
Mikul dhuwur, artinya kita harus menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua.
Mendhem jero, artinya segala kekurangan orang tua itu tidak perlu ditonjol-tonjolkan. Apalagi ditiru! Kekurangan itu harus kita kubur sedalam-dalamnya, supaya tidak kelihatan.
Dalam pada itu, nama baik orang tua itu harus kita junjung setinggi-tingginya sehingga terpandang keharumannya.
“Bagus,” jawab Bung Karno.
“Bapak tetap saya hormati seperti saya menghormati orang tua saya. Bagi saya, Bapak tidak hanya memimpin bangsa, tetapi saya anggap orang tua saya. Saya ingin mikul dhuwur terhadap Bapak. Sayang, yang mau di-pikul dhuwur mendhem jero tidak mau,” kata saya. Saya yakin, Bung Karno paham benar akan ungkapan yang saya kemukakan itu.
Sebentar Bung Karno menarik muka serius seperti semula.
“Betul begitu, Harto?” tanyanya kemudian.
“Betul, Pak, Insya Allah. Soalnya bergantung pada Bapak.”
“Nah, kalau betul kau masih menghormati aku dan menghargai kepemimpinanku, kuperintahkan kau menghentikan demonstrasi-demonstrasi mahasiswa itu. Aksi-aksi mereka sudah keterlaluan. Tidak sopan! Liar! Mereka sudah tidak sopan dan tidak hormat kepada orang tua. Mereka tidak bisa dibiarkan, Harto. Kau kuminta mengambil tindakan tindakan terhadap mereka.”
“Maaf, Pak. Saya pikir, masalah ini berkenaan dengan pembenahan negara kita secara keseluruhan. Yang saya maksud, penyelesaian politik mengenai Gestapu/PKI seperti yang Bapak janjikan. Kalau sekarang Bapak Presiden mengumumkan secara resmi bahwa PKI dibubarkan dan dilarang, saya percaya mahasiswa itu akan menghentikan aksi-aksinya. Karena saya juga dituntut oleh mereka.”
“Penyelesaian politik Gestapu, Gestok, PKI lagi yang kau sebut, Harto. Kamu tadi mengatakan, tetap menghormati kepemimpinanku.”
“Tidak pernah goyah, Pak.”
“Kalau begitu, laksanakan perintahku,” kata Bung Karno.
Saya tidak menjawab. Bung Karno juga terdiam.
Kemudian berulangkali saya renungkan adegan ini.
“Jane aku iki arep kok apakake?“
Saya artikan itu, beliau belum bisa menangkap sikap saya. Kata-kata saya yang terus menerus saya sampaikan kepada beliau, yang selalu berbeda dengan pendiriannya, belum bisa saja beliau tangkap. Atau bisa beliau tangkap, tetapi belum beliau yakini benar-benar.
Beliau mempunyai satu pendirian, saya mempunyai pendirian lain. Tetapi saya tidak menentang begitu saja. Namun juga tidak patuh begitu saja. Saya sebagai bawahan sebenarnya harus taat. Apa yang diperintahkannya seharusnya saya patuhi. Tetapi saya sebagai pejuang tidak mungkin patuh begitu saja.
Ya, saya jawab pertanyaan Bung Karno itu, “Saya akan mikul dhuwur mendhem jero.”
Dilihat dari segi agama maupun kebatinan, pegangan “mikul dhuwur mendhem jero” itu merupakan realisasi daripada iman, daripada percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Apa wujud iman yang digambarkan di sini? Mengakui kenyataan bahwa orang tua merupakan perantara daripada lahirnya manusia. Tuhan menciptakan manusia melalui orang tua, yaitu ayah dan ibu. Oleh karena itu, orang yang beriman, yang percaya kepada Tuhan, wajib menghormati orang tua. Kepada orang tua itulah yang menjadi perantara kita sampai lahir di dunia ini dan mengasuh kita sampai betul-betul kita bisa hidup sendiri sebagai orang dewasa.
Begitu juga sikap kita kepada guru. Guru menjadi perantara kita sehingga kita mengetahui sesuatu, saya tidak bisa membaca sampai bisa membaca, dari tidak bisa menghitung sampai bisa menghitung. Begitu juga halnya sampai kita bisa menulis.
Oleh karena itu, kita wujudkan taqwa kepada Tuhan itu berdasarkan iman, antara lain dengan menghormati orang tua dan guru kita.
Filsafat itu merupakan pegangan ayah saya. Beliau mengajarkan begitu juga kepada saya, agar saya menjadi orang yang hormat dan patuh kepada orang tua dan guru.
Namun ternyata saya tidak patuh secara begitu saja. Sebab, kalau saya menurut kehendak beliau, berarti saya berbuat salah.
Dalam pada itu, terhadap beliau saya tetap bersikap sebagai anak kepada bapak. Tetap tenang dan sabar bila menghadapi beliau sedang marah. Saya selalu ingat falsafah “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti“.
Versi II
Sikap Pak Harto, menjunjung tinggi dan menghargai orang tua, tercermin tatkala menghadapi masalah Bung Karno.
Ini merupakan sikapnya sebagai anak petani yang berlatar belakang budaya Jawa dan menjiwai setiap tutur kata
dan tindakannya. Adik kandungnya satu ibu, H. Probosutedjo menuturkan khusus kepada wartawan Majalah TokohIndonesia.
Di dalam pandangan Pak Probo, dari semula tidak ada keinginan Pak Harto menjadi Presiden. Barangkali itu sudah kehendak Tuhan. Dalam G-30-S/PKI (dinihari 1 Oktober 1965), Pak Harto tidak diculik, itu juga sudah kehendak Tuhan.
Pak Harto—waktu itu Pangkostrad—satu-satunya jenderal yang berani mengambil tindakan, mengambil-alih pimpinan Angkatan Darat (AD). Padahal jenderal AD masih banyak. A.H. Nasution pangkatnya lebih tinggi. Kemudian Umar Wirahadikusumah, pangkatnya sama dengan Pak Harto (Letnan Jenderal). Ibrahim Adjie, juga banyak lainnya. Pak Harto mengusulkan Nasution, tetapi banyak jenderal lain tidak setuju, karena Pak Nas masih sakit dan trauma, baru saja lolos dari penculikan.
“Tetapi kenapa Pak Harto yang tampil?” Soalnya, Pak Harto melihat yang lain-lain menunggu, tidak ada yang mau bertindak. Akhirnya, Pak Harto memanggil dan menghubungi kolega-koleganya bahwa kejadian tersebut, tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang beragama, pasti para pelakunya orang-orang yang tidak beragama.
Semua panglima ditelepon oleh Pak Harto bahwa keadaannya gawat (tujuh jenderal AD diculik dan dibunuh), tetapi saat itu belum ada niat memimpin AD. Pak Harto terpaksa mengambil alih karena tidak ada lagi yang memimpin AD setelah Jenderal Ahmad Yani diculik dan dibunuh.
Pak Harto, dinihari 1 Oktober 1965, mencari Bung Karno yang tidak diketahui sedang ada di mana. Hanya setelah Pak Harto mengeluarkan seruan bahwa semua petinggi negara harus melapor ke Kostrad, ajudan Bung Karno, Kolonel Bambang Widjanarko melapor bahwa Bung Karno ada di Halim Perdanakusuma.
Karena Bung Karno ada di Halim, Pak Harto kaget, “koq ada di Halim?” Sedangkan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) baru saja melacak bahwa para jenderal yang hilang dibawa ke arah Halim. Kenapa Bung Karno ada di sana? Pak Harto kemudian meminta Bung Karno kembali ke Istana. Bung Karno setuju, kembali ke Istana.
Pak Harto, menurut Pak Probo, dari dulu tidak punya cita-cita menjadi pemimpin bangsa ini. Untuk mendukung anggapannya, Pak Probo bertutur kilas balik. Ketika pangkatnya masih saja letnan kolonel, Pak Harto hampir putus asa. Ia mau berhenti dari militer. Karena pangkatnya tidak naik-naik, dari 1947 sampai 1954, tetap Letkol, Pak Harto ingin mengundurkan diri.
Pak Harto bicara kepada Bu Harto (istrinya): “Kita begini-begini saja, tidak ada penghargaan. Kita beli taksi saja, saya mau jadi supir taksi.” Lantas dijawab oleh Bu Harto: “Dulu waktu melamar saya kan nggak jadi mau jadi supir taksi.” Tertawa… ha…ha…ha…!
“Ini betul kejadian,” kata Pak Probo. Pak Harto pasrah, biarlah terus jadi Letkol, yang lain-lain juga begitu. Baru tahun 1956, Pak Harto diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Diponegoro, tahun 1958 jadi Panglima Kodam Diponegoro.
Kemudian, orang-orang PKI menuduh Pak Harto korupsi ketika menjadi Panglima Kodam Diponegoro. Tuduhan itu disebarluaskan oleh orang PKI, namanya Sunaryo, Komandan CPM di Jawa Tengah. Pak Harto dilaporkan sampai ke pusat, ke Gatot Subroto dan A H Nasution. Kemudian Pak Harto diberhentikan dari Pangdam Diponegoro (1959) sebelum waktunya. Lalu Pak Harto mengikuti Seskoad tahun 1960, pangkatnya naik jadi Brigadir Jenderal.
Bung Karno Marah
Sewaktu Pak Harto mengambil alih pimpinan AD, Bung Karno tidak setuju. Bung Karno marah-marah, Pak Harto dikatakan koppig, keras kepala. “Kenapa tidak minta izin sama saya. Yang menentukan Panglima saya, bukan mengambil alih sendiri begitu,” hardik Bung Karno.
Lantas Pak Harto dibela oleh Panglima AL, Mulyadi: “Pimpinan AD, Pak Yani, sudah gugur diculik. Pembantu-pembantu yang lain tidak ada. Tidak ada yang berani mengambil alih pimpinan AD. Sebenarnya kita harus menghargai Pak Harto.”
Karena Bung Karno marah, Pak Harto tidak diperkenankan menjadi Panglima AD. Lalu Bung Karno mengangkat Letjen Pranoto Reksosamudra. Kalau begitu, kata Pak Harto kepada Bung Karno, “saya tidak bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban. Lantas Bung Karno seketika itu juga menunjuk Pak Harto sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).
Ternyata kemudian, Pranoto tidak disetujui oleh para perwira tinggi AD, akhirnya dicabut, dan Bung Karno mengangkat Pak Harto menjadi Panglima AD. Sejak itu, Pak Harto meminta keterangan yang sebenarnya dari Bung Karno tentang peran PKI. “PKI jelas berkhianat pada republik. Yang menculik kolega saya, tujuh jenderal, adalah Untung di bawah pimpinan Latief yang PKI. Jadi PKI harus dibubarkan,” kata Pak Harto kepada Bung Karno.
Bung Karno tidak mau. Kalau Bung Karno waktu itu mau membubarkan PKI, ia mungkin masih tetap jadi presiden. MPRS mungkin tidak menolak pertanggungjawabannya. “Paling-paling Bung Karno digoyang oleh rakyat, dan Pak Harto pasti melindungi,” kata Pak Probo.
Pak Harto sangat kecewa karena Bung Karno tidak mau berbicara apalagi menyalahkan PKI. Kenapa Bung Karno selalu melindungi PKI, kenapa tidak mau membuka yang sebenarnya. Siapa dalang pembunuhan tujuh jenderal. Tidak mungkin kalau tidak didalangi. Akhirnya Bung Karno tidak marah lagi. Tetapi ia sering bertanya.
Suatu kali, pada sidang kabinet, Pak Harto merenung sendiri, ia hanya dikawal ajudan. Lantas Bung Karno mendatangi Pak Harto, bertanya dalam bahasa Jawa: “Har, aku iki arep ko apake?” (Har, aku ini akan kau apakan).
“Pak saya ini kan anak petani. Anak tani itu kepandaiannya cuma, sok nek gede biso mikul duwur mendem jero. (Artinya, memikul jenazah tinggi-tinggi dan menguburnya dalam-dalam).
“Opo bener koe iku ngono.” (Apa benar kamu itu begitu).
“Ya, boleh dibuktikan Pak. Saya tidak ingin apa-apa, Cuma kejahatan itu harus dibongkar.”
Pak Harto hanya meminta Bung Karno membongkar siapa yang mendalangi pembunuhan tujuh jenderal. Lantas terjadi dialog antara Bung Karno dan Pak Harto. “Nasakom (nasional, agama, komunis) telah saya jual kepada dunia melalui PBB dan saya termasuk pemimpin dunia. Kalau PKI dibubarkan akan hilang muka saya sebagai pemimpin dunia,” kata Bung Karno.
“Ya, tapi PKI sudah berkhianat, bagaimana memelihara orang yang sudah begini? Pak, kita berjuang untuk rakyat. Rakyat menuntut bubarkan PKI. Maksud baik Bapak merangkul PKI, tetapi ternyata PKI telah berkhianat,” ujar Pak Harto.
Dalam kesempatan lain, Pak Harto kembali menyampaikan tuntutan rakyat untuk membubarkan PKI yang sudah dua kali melakukan pemberontakan. Namun Bung Karno bersikeras: “Kau selalu mendesak saya untuk bubarkan PKI. Saya minta bubarkan KAMI dan Front Pancasila, tidak dilakukan,”
Pak Harto menjawab tegas, tetapi tetap dengan rasa hormat: “Tidak bisa Pak. KAMI dan Front Pancasila itulah yang mendukung dan membela Pancasila.”
“Ya, sudahlah nanti saja.” Jawaban Bung Karno tidak membuat persoalan G-30-S/PKI jelas dan selesai.
Menurut Pak Probo, mikul duwur yang dimaksudkan Pak Harto adalah menjunjung tinggi ajaran Bung Karno. Kenyataannya, setelah menjadi pejabat presiden dan presiden, Pak Harto benar-benar menjunjung tinggi ajaran dan warisan Bung Karno, Pancasila dan UUD 1945, yang dijadikan dasar negara. Mendem jero, artinya, rahasia dari orang tua tidak dibuka.
Kemudian Pak Harto menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 untuk mengamankan situasi dan ajaran-ajaran Bung Karno.
Dengan alasan itu, Pak Harto tidak mau mengusut lagi siapa sebenarnya yang ada di belakang pemberontakan PKI.
Sebenarnya, menurut perkiraan Pak Probo, Bung Karno tahu. Karena menjelang G-30-S/PKI, malamnya (tanggal 30 September) ada seminar teknologi di Istora Senayan yang diselenggarakan Ir. Hartoyo. Bung Karno hadir di seminar tersebut. Dari situ Bung Karno tidak kembali ke Istana, tetapi langsung ke Halim. Probo mengutip keterangan ajudan Bung Karno, Bambang Wijanarko.
Lantaran Pak Harto sudah bilang mikul duwur, mau menjunjung tinggi ajaran-ajaran Bung Karno, dan mendem jero, tidak akan membongkar rahasianya. Pak Harto tidak mau mengadili Bung Karno, meskipun banyak tuntutan untuk mengadilinya. Bung Karno hanya diasingkan di Wisma Yaso.
Sidang Istimewa MPRS Maret 1967, meminta pertanggungjawaban Bung Karno. Bung Karno hanya bicara tentang Nasakom, Resopim dan lain-lain, tetapi tidak menyinggung G-30-S/PKI. MPRS tidak bisa terima.
Kemudian diadakan sidang sekali lagi, Maret 1968. Jawaban Bung Karno begitu lagi. Akhirnya, MPRS mengukuhkan Pak Harto sebagai Presiden RI Kedua.
Kemudian diselenggarakan Pemilu 1971. MPR hasil Pemilu 1971 memilih kembali Pak Harto menjadi Presiden, dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi Wakil Presiden. Pak Harto tetap konsisten mikul duwur, mendem jero. Dia tidak mau memenuhi tuntutan massa untuk mengadili Bung Karno. Dia mencegah Bung Karno di Mahmilubkan. Karena Bung Karno telah meletakkan fondasi sebuah negara merdeka yang dipersatukan oleh Pancasila. Pak Harto menerjemahkan ideologi dan dasar negara itu dalam kehidupan nyata
Siapa Dalang Peristiwa 14 Mei 1998
April 21, 2008
Probosutedjo
WAWANCARA 03: MTI: Ketika Pak Harto mengundurkan
diri bagaimanakah gambaran detik demi detik perubahan yang terjadi di lingkungan Istana dan Keluarga Besar Cendana menjelang tanggal 21 Mei 1998?
PROBO: Pada waktu itu Pak Harto ke Mesir. Sebelum tanggal 15 Mei sudah terjadi gerakan-gerakan anti Soeharto. Dia dituduh korupsi. Setiap hari ada orasi. Waktu mau berangkat ke Mesir saya sebenarnya sudah mengingatkannya. “Mas, jangan pergilah. Dirikanlah Dewan Reformasi, lakukan perbaikan atau reform untuk menjaga supaya jangan sampai reformasi berubah menjadi revolusi sebab apa yang kita bangun bisa rusak,” kata saya.
Namun saya mendapat jawaban bahwa ini bukanlah masalah pribadi, bukan mewakili Indonesia saja tapi juga mewakili ASEAN dan Gerakan Non Blok. Terus saya juga meminta kepada Ketua MPR Harmoko supaya mencegah Pak Harto agar jangan pergi. Maksud saya, bikinlah keputusan sidang yang bisa mencegah kepergian Pak Harto.
Tetapi Harmoko cuma datang kepada Pak Harto minta supaya jangan pergi dan memberitahu pula bahwa itu adalah atas usul saya. Lalu saya bilang Harmoko, “Kenapa dibilang Pak Probo, saya artinya apa, saya orang swasta dan tidak punya kedudukan.”
Demonstrasi terjadi terus-menerus tiada henti. Terjadi penembakan mahasiswa Universitas Trisakti. Puncaknya tanggal 14 Mei terjadi penjarahan di beberapa tempat. Kelihatannya sudah direncanakan sebelumnya karena tempatnya tertentu begitu saja. Malah ada perkosaan-perkosaan di rumah-rumah keturunan etnis Tionghoa.
Sampai-sampai Cristianto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) takut betul-betul sehingga koma dan tidak mau lagi tinggal di Indonesia. Ia keluar ke Amerika.
Pada tanggal 14 Mei penjarahan terjadi di mana-mana, keadaan kacau. Saya berusaha menghubungi Habibie sebagai Wakil Presiden tapi tidak berhasil. Sama Wiranto juga tidak berhasil. Tidak ada satu pun yang bertindak pada tanggal 14 itu. Lalu saya pulang dari kantor.
Kemudian, dari rumah pukul setengah lima subuh, saya keliling Jakarta, ternyata kota sudah morat-marit semuanya. Jakarta sepi tak ada satu pun mobil yang lewat kecuali saya.
MTI: Saat itu Pak Probo ada di Gedung Tedja Buana, berusaha mencari atau mengadakan hubungan kontak dengan Pak Habibie dan Pak Wiranto?
PROBO: Ya, tapi Habibie-nya tidak tahu di mana dan Wiranto-nya juga tidak bisa dihubungi. Belakangan baru tahu ikut rombongan ke Malang. Ada apa ini, dan acara apa itu?
Bagaimanapun yang merasa sudah puluhan tahun dibina supaya nanti bisa menggantikan meneruskan pembangunan, tahu-tahu sesudah ada kesempatan kok tega membikin dan mencari kedudukannya supaya kuat.
Kalau kita merenungkannya seperti begitu, kan tampak selama dia menjadi presiden gerakannya cuma mencari kedudukan supaya menjadi kuat, supaya mendapat kepercayaan. Sampai kepada anak-anak pun didekatinya seperti Josua, penyanyi anak-anak dari Surabaya pun sempat diterimanya di Istana. ►mti
=============================================
IMF dan Likuidasi 16 Bank
MTI: Posisi politik Pak Harto sampai tahun 1998 masih sangat kuat bahkan terpilih kembali menjadi Presiden. Ba-rangkali satu-satunya cara menurunkannya hanya lewat goncangan ekonomi yang menemukan momentum saat krisis mo-neter melanda Asia. Bagaimana sesunguh-nya penanganan krisis kala itu, sehingga Pak Harto, seorang pemimpin yang ber-pengalaman sampai tak kuasa menahan gejolak?
PROBO: Menjelang akhir masa jabatannya memang banyak pejabat yang selalu menjilat ke Pak Harto. Kasarnya begitu. Mengangkat-ngangkat dan memuji-muji Pak Harto dengan maksud supaya diangkat menjadi pejabat.
Ternyata mereka itu banyak yang hanya ngomong gede. Malah yang terakhir menjelang terjadinya reformasi, banyak pejabat yang me-nyusun buku yang namanya Manajemen Soeharto. Termasuk Tanri Abeng dan Abdul Gafur yang isi bukunya memuji-muji Pak Harto, supaya Pak Harto senang, lantas dia diangkat jadi menteri. Tapi ternyata mereka itu tidak becus.
Mula-mula Pak Harto dituduh bekerjasama dengan Liem Soe Liong. Padahal, tujuannya wak-tu itu Liem Soe Liong adalah orang yang bisa dikendalikan untuk membangun pabrik-pabrik yang sangat bermanfaat untuk kepentingan rakyat. Rupanya diam-diam banyak juga pejabat yang menjalin hubungan dengan pengusaha-pengusaha sehingga menjadi kaya.
Terus yang terakhir, terjadi krisis moneter yang tidak saja melanda Indonesia tetapi juga Korea Selatan, Thailand dan Filipina. Negara lain seperti Hongkong dan Cina tidak terkena karena cadangan devisanya banyak.
Indonesia cadangan devisanya pas-pasan. Itulah yang dipermainkan oleh George Soros. Akhirnya nilai rupiah jatuh kemudian terjadilah krisis moneter. Pak Harto sudah dijadikan sasaran di sini. Kemudian Pak Harto dipaksa supaya berhubungan dengan IMF. Menteri-menterinya pada waktu itu sudah mulai bertindak sendiri. Seperti Menteri Keuangan Mari’e Muhammad dan Gubernur BI J Soedradjat Djiwandono mengatur bank sendiri sampai ada 16 bank yang dilikuidasi.
Setelah ternyata tidak berhasil, Pak Harto memerintahkan agar jangan ada likuidasi lagi, karena tidak ada gunanya. Lebih baik kalau ada bank yang bermasalah dikasih bantuan kredit. Itulah kemudian keluar yang namanya BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).
Waktu BLBI keluar, saya sudah bilang sama Prof Edi Swasono, lewat telepon. “Wah, ini BI akan bangkrut.”
“Kenapa Pak?” tanya Edi Swasono. “Itu, orang-orang bank tidak bisa dipercaya. Nanti akan dibikin nasabah fiktif. Yang pinjam fiktif, nasabahnya fiktif, nanti akan terjadi begitu sehingga BI disedot.”
Benar saja. Akhirnya dana BI mengalir terus sampai sekian ratus triliun rupiah. Karena keadaannya begitu, Pak Harto dituduh tidak mampu lagi mengendalikan sehingga terjadilah krisis kepercayaan.
Dalang Tragedi Mei
MTI: Siapa kira-kira dalang peristiwa Kerusuhan 14 Mei 1998?
PROBO: Itulah yang kita tidak tahu. Saya kira kelompok orang-orang yang ekstrim-ekstrim itu. Orang kiri itu, kelihatannya dari situ.
MTI: Mengapa pada waktu itu jenderal-jenderal tidak berada di Jakarta?
PROBO: Ya itulah juga yang sampai sekarang menjadi teka-teki. Wiranto itu mengapa pergi ke Malang sewaktu terjadi peristiwa tanggal 14 Mei. Semua jenderal-jenderal pergi ke Malang di sini kosong sehingga tidak ada komando pengamanan. Dan sesudah sore-sore peristiwa itu berhenti sendiri. Aneh, kan?
Waktu itu saya duduk di sini juga, lantai tiga gedung Tedja Buana Building, Menteng, Jakarta Pusat. Si Lis, sekretaris saya yang dulu sudah ketakutan sekali. “Bagaimana ini, pulang saja Pak,” katanya. ►mti
***Majalah Tokoh Indonesia