<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Intropeksi buatku: 21 April makin paham Proporsional Feminisme</title>
	<atom:link href="http://bana2.wordpress.com/2008/04/22/intropeksi-buatku-21-april-makin-paham-proporsional-feminisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bana2.wordpress.com/2008/04/22/intropeksi-buatku-21-april-makin-paham-proporsional-feminisme/</link>
	<description>Bana2 WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2009 15:00:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: ki demang</title>
		<link>http://bana2.wordpress.com/2008/04/22/intropeksi-buatku-21-april-makin-paham-proporsional-feminisme/#comment-2</link>
		<dc:creator>ki demang</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 11:00:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bana2.wordpress.com/?p=20#comment-2</guid>
		<description>wah...tumben ada wanita yg mengambil peran gerakan feminisme tanpa harus bersaing secara emosional dengan laki-laki. Memang, yang dibutuhkan laki-laki juga sebenarnya simpel aja kok. Jika wanitanya mau tumbuh sebagai sosok dengan pembangunan karakter yang positif, maka sang lelakinya pun akan tumbuh dengan sendirinya juga (kan malu juga kalo kalah sama wanita...hehehe). Tapi bukan berarti konteks bersaing yang harus ditonjolkan, namun konteks saling berbagi dan membangun satu sama lain. Sehingga, antara keduanya terdapat kutub yang saling melengkapi secara sudut pandang yang proporsional. 
Salut sama wanita yang mau mempelajari psikologi laki-laki, mendorong dengan bangga akan langkah-langkah yang ditempung sang laki-laki. Karena dalam setiap langkah laki-laki sebanarnya ada peran pemikiran sang perempuan. Bahkan sang perempuan pun memilih diam, dia pun telah mengambil peran dalam langkah sang laki-laki (berarti telah mengiyakan)

Nice post...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah&#8230;tumben ada wanita yg mengambil peran gerakan feminisme tanpa harus bersaing secara emosional dengan laki-laki. Memang, yang dibutuhkan laki-laki juga sebenarnya simpel aja kok. Jika wanitanya mau tumbuh sebagai sosok dengan pembangunan karakter yang positif, maka sang lelakinya pun akan tumbuh dengan sendirinya juga (kan malu juga kalo kalah sama wanita&#8230;hehehe). Tapi bukan berarti konteks bersaing yang harus ditonjolkan, namun konteks saling berbagi dan membangun satu sama lain. Sehingga, antara keduanya terdapat kutub yang saling melengkapi secara sudut pandang yang proporsional.<br />
Salut sama wanita yang mau mempelajari psikologi laki-laki, mendorong dengan bangga akan langkah-langkah yang ditempung sang laki-laki. Karena dalam setiap langkah laki-laki sebanarnya ada peran pemikiran sang perempuan. Bahkan sang perempuan pun memilih diam, dia pun telah mengambil peran dalam langkah sang laki-laki (berarti telah mengiyakan)</p>
<p>Nice post&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
