Aku sempat baca di dalam salah satu figure yang memuat statistik pencapaian IPG (Indeks Pembangunan Gender) tahun 2005 menunjukkan prosentase 65.1 dan di intrepetasi kan kemajuan kualitas hidup perempuan yang meningkat dari tahun sebelumnya,data tersebut versi Kemeneg.PP dengan BPS. Dapat diartikan kualitas Perempuan Posmo Modern bisa dikatakan layak.
Hal diatas wajar terjadi, karena wilayah realitas perempuan pada satu sisi Modernisme yang menawarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, cara berpikir serta pola hidup. Dari keberhasilan itulah erat keterkaitannya dengan gerakan feminisme. Momen 21 April sangat tepat rasanya kalo hal yang paling layak di sorot adalah emansipasi atau gerakan feminisme. Tapi kali ini aku lebih tertarik pada kenyataan empiris yang terjadi di masyarakat, dengan mengamati streotype yang terjadi pada gerakan feminisme tersebut, disitu pasti ada suatu pesan implisit yang bisa kita tangkap.
Sebenarnya kita sebagai perempuan, harus mengambil sikap seperti apa dan pada posisi feminisme yang seperti apa. Dua hal paradoks terjadi pada perempuan, ada sebagian perempuan yang diposisikan subordinat oleh kaum lelaki sehingga mengalami kekerasan fisik (physical violence), kekerasan emotional (emotional violence) maupun kekerasan seksual(sexual violence). Disisi lain ada juga wanita yang menangkap emansipasi sebatas simbolik saja, seperti pakaian wanita yang minim, wanita yang beraktivitas kelewat jam malam, berjudi,merokok,mabuk dan banyak hal negatif lainnya.
Dari streotype yang paradoks diatas, esensi yang terdapat pada emansipasi atau gerakan feminisme sendiri menjadi kabur. Tentu saja sangat positif ketika kita menemukan para kaum hawa yang menjabat sebagai pemimpin lembaga pemerintahan, menjadi ahli nuklir, atau cendekiawan. Tetapi ketika kaedah moral, agama, dan sosial-budaya yang telah menjadi standar kehidupan masyarakat diabaikan, maka yang terjadi adalah porak porandanya kehidupan modern karena manusia telah kehilangan pegangan hidup.
Maka emansipasi yang over seperti ini yang malah akan membawa arus balik berupa pelecehan terhadap perempuan. Memaknai gerakan emansipasi secara proporsional dan kontekstual adalah solusinya, di era yang global ini. Masa depan globalisasi yang menuntut peranan wanita di sektor publik akan tercapai dengan baik ketika perempuan sendiri tetap berpegang pada kearifan lokal (local wisdom).
Kita nanti bisa mengukur prestasi dari gerakan feminisme yang sedang marak ini, dengan beberapa standar nilai. Pertama, apakah gerakan feminisme akan berhasil membuat konstruksi sosial-masyarakat menjadi tenang dan bersinergi. Kedua, setelah gerakan feminisme hadir dengan totalitasnya, apakah angka kejahatan akan berkurang atau bertambah. Ketiga, lebih dominan manakah antara prestasi yang dicapai gerakan feminisme dengan efek negatif yang ditimbulkannya.
Dengan ukuran nilai diatas, maka keputusan dan sikap yang kita ambil dalam memposisikan diri kita pada Model Feminisme yang seperti apa, dapat terarahkan. Kembali kepada apa yang diprediksi oleh John Naisbitt dan Patriia Aburdence, bahwa perempuan sebagai future leader akan dapat diujikan, minimal di negeri Indonesia. Disini pula letak proyeksi globalisasi dengan gerakan feminisme yang dipropagandakan selama ini.
Buat diriku pribadi, aku akan berusaha untuk menjadi perempuan yang tetap pada hakekatnya. Mengakui adanya keberadaan Emansipasi dan segala bentuk gerakan feminisme, karena bagaimanapun juga untuk hal itu, melewati proses yang tidak mudah. Tapi point nya lebih pada bagaimana sikap yang aku pilih pada bentuk Feminisme tersebut, dan aku lebih cenderung pada feminisme yang proporsional, karena aku masih mau dan sangat mau untuk mendengarkan masukan, kritik, rekomendasi,atau bahkan nasehat sekalipun, dengan catatan apa yang dikatakan itu memang masuk akal dan hati serta pikiranku tidak complain. Dengan begitu aku semakin diuntungkan, banyak hal baru yang aku tahu, wawasan bertambah, watak semakin matang, karena pertimbangan semakin beragam. Disitu Equality kualitas berpikir kita kaum perempuan dikomparasikan kaum pria semakin terbukti.
Kuncinya sederhana, menjadi perempuan yang sebenarnya, atau yang lebih dihargai (respect) oleh pria, baik itu dalam sekup pekerjaan, pergaulan, organisasi, bahkan yang lebih personal seperti pola hubungan pribadi, suami-istri atau yang belum berumah tangga sekalipun. Kita, perempuan dalam hal ini ada baiknya untuk pandai dan mengerti betul bagaimana menempatkan posisi kita (istilah jawanya: pinter ndeleh awak), karena kalo kita masih punya rasa gengsi (takut dibilang bodoh), ya pastinya penilaian mereka memang kita dianggap tidak begitu tau banyak hal atau “Kurang Wawasan”, buktinya masih jaga gengsi??? karena semakin kita so gengsi, so tau banyak hal, justru malah ga mendapat informasi baru lho dari orang lain, ya ketinggalan info lah kita…… !!! Maka, baiknya kita mau mendengarkan orang lain, mau di kritik orang, mau di ingatkan sama pasangan sendiri, tidak sungkan untuk minta maaf bila salah, berani mengungkapkan apa yang kita inginkan dan tegas (jangan hanya berani ngomongin di belakang), dan yang tidak kalah pentingnya salah satu anjuran untuk menjadi hal yang membuat laki-laki respek sama kita adalah “Mengerti apa yang disuka dan tidak disuka sama laki-laki dari personality kita” , So dengan Feminisme Proporsional ini ga ada salahnya kita jauh lebih mengerti tentang sisi kejiwaan dari sosok seorang laki-laki. Sederhana keliatannya tetapi bagi sebagian wanita yang tidak menguasai ilmu tersebut, terkadang kebosanan dan kejenuhan melanda pada pasangan atau teman laki-laki dari perempuan tersebut. Karena besar kemungkinan perempuan tersebut, hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, apa yang seharusnya dipenuhi pasangannya terhadap dia, mencari-cari kesalahan dari pasangannya, tanpa tau apa yang menyebabkan itu semua terjadi, bisa jadi dari kita sendiri (perempuan) atau pasangannya (laki-laki). Makanya diomongin langsung kan jauh lebih nyaman, tau pokok masalahnya.
Aku menyoroti hal itu dengan tajam, bukan berarti hal tersebut sekedar wacana lho!! Realitasnya sering terjadi di masyarakat karena ketimpangan dari pola pikir kita (perempuan) dibanding kaum pria. Kesimpulanku, untuk menunjukkan keeksisan kita tanpa harus merendahkan laki-laki, banyaklah belajar, membaca dan mendengar (itu penting), kan malu kita sebagai perempuan kalau dibilang kurang wawasan, taunya cuma itu-itu aja….!!! jangan dulu merasa bangga kalo kita mahir pada bidang yang kita tekuni saja (No Wonder lah…), sementara wawasan yang lain nya minim. Jangan deh…..!!! Ayo bangkit perempuan, tunjukkan kalo kita memang layak untuk di dengarkan (dengan catatan omongan kita harus berbobot). Dengan seperti itu bukti nyata dari Proporsional Feminisme akan terlihat . Let’s Try…..!!!
April 22, 2008 at 11:00 am
wah…tumben ada wanita yg mengambil peran gerakan feminisme tanpa harus bersaing secara emosional dengan laki-laki. Memang, yang dibutuhkan laki-laki juga sebenarnya simpel aja kok. Jika wanitanya mau tumbuh sebagai sosok dengan pembangunan karakter yang positif, maka sang lelakinya pun akan tumbuh dengan sendirinya juga (kan malu juga kalo kalah sama wanita…hehehe). Tapi bukan berarti konteks bersaing yang harus ditonjolkan, namun konteks saling berbagi dan membangun satu sama lain. Sehingga, antara keduanya terdapat kutub yang saling melengkapi secara sudut pandang yang proporsional.
Salut sama wanita yang mau mempelajari psikologi laki-laki, mendorong dengan bangga akan langkah-langkah yang ditempung sang laki-laki. Karena dalam setiap langkah laki-laki sebanarnya ada peran pemikiran sang perempuan. Bahkan sang perempuan pun memilih diam, dia pun telah mengambil peran dalam langkah sang laki-laki (berarti telah mengiyakan)
Nice post…